The Nov. 4 Rally is the Embodiment of Human as A Destructive Creature

How is such barbarity possible in the late Twentieth Century?”

That question came at the beginning of Jean Baudrillard’s writing, “The Transparency of Evil: Essays on Extreme Phenomena”, in the chapter The Mirror of Terrorism. How (and why) the primitive behavior still appears in the era of advanced technology, when human behavior –supposed to be- more civilized? Why violence can be so easy to slip intertwined in every side of our life?

The Nov. 4 2016 rally has revealed if we haven’t stepped our toes that far yet from nativism and tribalism. Initiated by FPI leader Habieb Rizieq Shihab, thousands of protesters flooded Jakarta demanding Ahok to be charged for his alleged blasphemy case. The protesters came not only from Jakarta but also from Yogyakarta, Solo, even outside Java such as Sumatra, Kalimantan and Sulawesi, of all ages. The uproar was triggered after a video of Ahok citing Al-Qur’an and made controversial comment in Kepulauan Seribu. This controversial speech was uploaded by a man named Buni Yani onto his Facebook page and went viral in other social media. As a result of it, everybody hits the ceiling in a sudden. Later, Buni Yani confessed if he had mistakes in transcribing the speech.

However, I have to to declare if I am not a big fan of his statement back in that day. I perceive if Ahok has not had the intention to insult other beliefs, but it seems no need to carry to those ethically wrong words. It’s just another example, if big-mouthed Ahok can lead problematic. Even in my opinion, every citizen is entitled to report anyone in the Indonesian legal system, so I respect the legal process that is currently underway. Regardless, the complainant(s) should be heartened if Ahok found not guilty considering twisted words from Buni Yani.

But let’s not discuss it. Things need to be observed more carefully is why there must be looting and racist sentiments when the demonstration takes place?

At the beginning, the demonstration runs quite orderly and peaceful, even deserve thumbs up when protesters took the initiative to pick up the garbage and to not to step on the city park. The tensions suddenly rose in a wrap, after the demonstration license was expired at 6 pm. Several protesters set off firecrackers, threw rocks, and burned two police trucks until police decided to fired tear gas to the protesters near the State Palace. Then, the riots moved over into Penjaringan, North Jakarta. At least, three minimarket were looted (by them, the nasty opportunists) and they shouted “Bunuh Cina!” and “Ganyang Cina!” and other hate speeches. There is also chaos in front of Ahok’s residence in Pantai Mutiara, also in North Jakarta, when mass gathered and make some similar noises.

Noticeably, this is irrational when the-so-called representatives of the Muslims have business with someone (Ahok), then the subject is a whole community of Chinese ethnicity. This argument is clearly, logically invalid. Even though Ahok is a Chinese-Indonesian, the demonstrators ought not to cornering all Chinese Indonesian community. We can’t make a generalization about what is true for some parts, can be applied to all, or vice versa. It is called pars pro toto, fallacy of composition and division. We can’t name of a portion of a man (Ahok) can represent its entirety (Chinese ethnic).

It’s really depressing when there are still many people who blame some minority ethnicity in Indonesia’s history that has experienced robberies, mass murder and rape in many years. Have you ever imagined your house knocked and when you open the door, you will be bayoneted in front of your family? You’ll never be paranoid as bad as Chinese ethnic people in Indonesia. They, the Chinese-Indonesian, through that bloody-dark era in many years, from Chinezenmoord 1740, to G30S/PKI ’65, to May ’98.

This racial hatred fueled and hijacked by the political identity separation, and hatred is ingrained, widespread, without any chance of reconciliation or explanation. This is exacerbated by our wick of anger that extremely short and laziness of Indonesian people to gather information and explore context. For the English philosopher Thomas Hobbes, human was dominated by irrational and destructive impulses, humans are a bunch of vicious, cruel, and short-temper creatures. This is why human is also known as homo homini lupus: human is a wolf to another human that leads to collective wars of all against all, when everyone is a foe and competitor of everyone else (bellum omnium contra omnes). As a zoologist, Konrad Lorenz emphasizes human violence in his book, “On Aggression”.  Aggressive drive springs spontaneously from the inner human being even in the absence of stimulus. Human is a destructive creature by nature, not only by nurture. Back to Jean Baudrillard’s question about human barbaric behavior in the opening sentence, the answer to that question is if it was a false question. Barbaric behavior knows no time and will always exist, particularly for a country like Indonesia with inequality education and poverty that resulting social jealousy.

A source of violence can appear out of the blue, from the media agenda-setting that constructing hostility, to social inequalities, compounded as if this country seemed to facilitate and promote violence. I do not have a steady conclusion to offer. But let’s think for a moment (perhaps cliché) and open our mind whether the violence was the right thing to do? Is your dislike of a person based on inaccurate information, can make a particular ethnic shivering again in their trauma? Do not forget if they are human beings. They were experienced the terrors and injustice of it in the past, do not let this happen again to them.

Never. Let. It. Happen. Again.

Or maybe it is true if we’ve reached the point where we would be the most destructive creatures on earth. Perhaps this assumption is wrong. Please prove me wrong. And I hope I’m wrong.

Tentang Rumah

Penyunting aksara sekaligus penulis asal Amerika, Verlyn Klinkenborg, membuka paragraf pada esainya yang berjudul “The Definition of Home” dalam majalah Smithsonian dengan sebuah pertanyaan: “when did ‘home’ become embedded in human consciousness?” Sejak kapan (kata) “rumah” tertanam dalam kesadaran manusia? Selanjutnya, Klinkenborg kembali bertanya,”is our sense of home instinctive? Are we denning animals or nest builders, or are we, at root, nomadic?

Memang betul, mendefinisikan rumah adalah perihal yang tidak mudah. Entah sejak kapan rumah lebih merujuk kepada kata benda, -dalam konstruksi sosial yang telah terbangun- adalah tentang bangunan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  rumah /ru.mah/ adalah [1] bangunan tempat tinggal; [2] bangunan pada umumnya. Definisi yang begitu sederhana, bahkan bisa dikatakan terlalu sempit pemaknaannya.

Jika tim penyusun KBBI ingin sedikit saja memperlebar pandangan tentang rumah, maka kita akan mendapati pemaknaan yang lebih luas ketimbang sekadar ruang (bangunan) saja. Rumah juga dapat diartikan sebagai suatu wilayah atau letak geografis, seperti kampung halaman, desa, kota, ataupun negara. Selain ruang dan wilayah, rumah juga memiliki kandungan makna kata benda lainnya, yaitu tentang waktu dan (ke) pulang (an).

Jika menarik makna rumah secara lebih luas lagi, rumah bisa diartikan sebagai sebuah kata sifat, misalnya cinta, hangat, nyaman, aman, dll. Bahkan lebih jauh lagi, menurut Zen Rachmat Sugito, rumah juga mengandung makna yang dapat diklasifikasikan sebagai kata kerja, atau paling tidak, perlu dikerjakan, seperti hasrat, mimpi, cita-cita, dsb dll dst.

Ada banyak lagi kemungkinan definisi tentang rumah, namun satu hal yang pasti. Rumah tidak sekadar bangunan.

Kembali ke pertanyaan dalam esai Klinkenborg pada paragraf awal, tentang bagaimana rumah masuk ke dalam kesadaran manusia. Penulis buku The Last Fine Time ini menuturkan jika dalam awal sejarah manusia, mungkin rumah tidak lebih dari api kecil yang samar-samar menyala, menyinari sebuah goa dengan gundukan rayap. Namun, bagaimana pun sebuah rumah, dan bagaimana “rumah” masuk ke dalam kesadaran manusia, itu semua tergantung pengetahuan serta pengalaman personal, bagaimana tiap-tiap kepala manusia berproses dan kemudian mengkonstruksi ulang definisi rumah, sesuai dengan pemahamannya masing-masing.

Kita dapat mengambil contoh, ketika seorang anak kecil merasakan pindah rumah untuk pertama kali. Di rumah barunya, anak tersebut mengalami geger kultur, di mana ia tidak atau belum menemukan teman sebaya untuk bermain bola di lapangan. Di rumah barunya, anak itu tak lagi dapat berkaraoke keras-keras menyanyikan lagu anak-anak disebabkan adanya peraturan yang melarang penggunaan pengeras suara yang berpotensi mengganggu kenyamanan lingkungan. Di rumah barunya, anak itu mengalami kesepian karena orang tuanya seringkali pergi pagi pulang malam mengingat letak rumahnya yang jauh dari kota. Di rumah barunya, anak itu tak lagi merasa nyaman, karena rumah barunya tersebut seringkali bocor di kala hujan. Di rumah barunya, anak itu tak lagi merasa aman, karena ketika orang tuanya bekerja, terkadang anak itu dititipkan oleh paman yang suka mabuk tanpa diketahui oleh orang tua dari anak tersebut. Dari situ, si anak tersebut tidak lagi merasa rumah tersebut sebagai “rumah”. Rumah barunya telah turun tingkat menjadi hanya bangunan tempat tinggal saja, tanpa kehangatan dan kerinduan akan pulang ke rumah. Persis seperti definisi rumah dalam KBBI. Tanpa emosi, tanpa kedekatan.

Rumah sebagai awal

Kedekatan dan emosi di dalam rumah dilahirkan melalui adanya repetisi interaksi dan afeksi antar penghuni rumah. Dan dalam kehidupan manusia, rumah adalah sebuah awal di mana intensitas repetisi dan afeksi didapatkan oleh manusia untuk kali pertama.

Home interprets heaven. Home is heaven for beginners.” (Charles Henry Parkhurst)

Rumah adalah sebuah awal bagi kehidupan manusia. Rumah merupakan batu peletakan pertama bagaimana kepribadian seorang manusia akan terbentuk. Kehadiran “rumah” (bangunan berikut penghuninya) merupakan awal jejak kaki manusia untuk berinteraksi sebelum kemudian dilepas untuk menjejakkan langkah berikutnya, keluar dari rumah.

Rumah dan segala perubahannya

Saya belum menemukan padanan kata homesick dalam bahasa Indonesia, jadi izinkan untuk mencampur aduk kata tersebut dalam kalimat berbahasa Indonesia. Bisakah manusia merasa homesick padahal dia sedang berada di rumah?

Apakah manusia dapat menemukan rumah baru bagi dirinya sendiri?

Apakah rumah yang telah terdegradasi maknanya menjadi sebuah ruang tanpa emosi, bisa kembali naik tingkat menjadi rumah seutuhnya?

Kembali dengan cerita anak kecil yang telah pindah rumah pada paragraf-paragraf sebelumnya. Mari kita lanjutkan ceritanya. Seiring berjalannya waktu, anak itu akhirnya mendapatkan teman-teman, yang meskipun usianya jauh di atas dirinya, tapi dapat menerima anak tersebut dalam pergaulan mereka. Di rumah barunya juga, anak itu dapat mengajak teman-teman tersebut untuk bermain video game. Meskipun orang tuanya pulang malam, di rumah barunya ini lah anak itu dapat berkumpul bersama sepupu-sepupunya yang ternyata memiliki rumah tak jauh dari rumah baru anak itu.  Di rumah barunya ini juga lah, anak itu merasakan pengalaman pertama mengikuti lomba tujuh belasan. Sebuah pengalaman menyenangkan yang belum ia temui pada rumah lamanya. Dan setelah ia mengalami berbagai hal tersebut, anak itu terbiasa dengan rumah barunya dan merasa nyaman di sana.

Pada saat-saat seperti itulah rumah kembali naik kelas, dari yang sebelumnya sekadar bangunan semata, menjadi sebuah kenyamanan. Dan hal ini menjawab pertanyaan apakah kasta sebuah rumah dapat berubah atau tidak tingkatannya, karena definisi rumah sangat fleksibel.

Rumah juga tidak selalu harus sebuah bangunan yang ada di KTP-mu. Bagi seorang suami yang sedang mengalami kisruh rumah tangga, rumah baginya adalah warung rokok yang terjaga sejak malam hingga pagi dengan papan catur, bir, kopi, dan kepulan tukang sate. Bagi seorang yang putus cinta, rumah adalah studio musik dengan fender stratocaster, ampli vox, dan ruang kedap suara. Bagi orang yang ditinggal mati kekasihnya, rumah adalah desir ombak pada pesisir pantai. Dan bagi orang yang sudah putus asa dan tak lagi punya semangat hidup, rumah (dan dunia) adalah sebuah hal yang tak lagi nyata/fana.

Bahkan dengan pandangan yang lebih luas lagi, rumah dapat diartikan tentang seseorang/beberapa orang. Rumah bisa berarti tentang percakapan anak rantau dengan ibunya sambil menyantap sayur asem buatan ibunda yang kelewat dingin karena menunggu kepulangan sang anak. Rumah bisa jadi adalah teman karib, sosok di mana kamu bebas saling mencaci-maki, toyor sana toyor sini, namun di saat yang dibutukan dapat saling menolong satu sama lain. Rumah juga mungkin saja ada di dalam diri seseorang di kilometer jauh yang ingin membuatmu cepat kembali. Rumah pun dapat diurai menjadi semakin fleksibel, dan mungkin kompleks

Begitulah pada akhirnya, tiap kepala manusia akan merekonstruksikan sendiri apa arti rumah bagi mereka berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya masing-masing. Tapi pada akhirnya ada satu elemen yang tidak akan pernah hilang dalam sebuah rumah; bahwa rumah adalah sesuatu yang tidak akan membuatmu merasa asing. Rumah adalah perihal yang kamu jadikan tempat tinggal dan bukan sekadar tinggal tempat. Rumah adalah perihal kembali dan kepulangan, penawar penolakan-penolakan di dunia.  Menutup tulisan ini dengan mengubah sedikit frase milik Adimas Immanuel, rumah adalah kepulangan yang tak buatmu canggung, obat di kala limbung, serta tempat rebah saat beban hidup terasa menggunung.



Benedictus Gemilang Adinda

Minggu, 17 Januari 2016

Memaklumi Zlatan Ibrahimovic dan Segala Arogansinya melalui I am Zlatan

Judul Buku: I AFeatured imagem Zlatan
Penulis: Zlatan Ibrahimovic dan David Lagercrantz
Penerbit: Albert Bonniers Foerlag
Tebal: 347 halaman
Cetakan: I, 2011

Congkak, pongah, angkuh, dan sombong adalah sejumlah kata yang sepadan dengan arogan. Dalam wiktionary, arogan diartikan sebagai mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah. Dan sepertinya sejauh ini, banyak orang yang sepakat jika striker berkebangsaan Swedia Zlatan Ibrahimovic, merupakan pesepakbola yang paling lekat dengan kata arogan. Bahkan jika perlu, kita meletakkan nama Zlatan sebagai kata ganti arogan, sama seperti Zlatan yang memakai nama dirinya sebagai kata ganti orang pertama. Tidak ada pesepakbola di muka bumi ini yang dapat menyentuh level keangkuhan layaknya Zlatan Ibrahimovic.

Pun dalam otobiografinya yang bertajuk I am Zlatan, bersama penulis yang juga berasal dari Swedia, David Lagercrantz, Zlatan mengingatkan pembacanya, seberapa tinggi level arogansinya. Alih-alih mengenalkan dirinya secara membumi, Zlatan, secara arogan, mendeklarasikan kebenciannya dan sejumlah konflik antara dirinya dengan Pep Guardiola selama berkostum Barca. Mulai dari Guardiola yang tidak memberinya izin untuk mengendarai Porsche dan Ferrari ke tempat latihan, kemudian menyebut Guardiola tidak mengoptimalkan dirinya layaknya membeli sebuah Ferrari dengan mengendarainya seperti Fiat, hingga meneriaki Guardiola ketika Barca dikalahkan oleh Inter Milan di liga Champions 2009-2010.

“You haven’t got any balls!” maki Zlatan kepada Guardiola. “You’re shitting yourself in front of Mourinho! You can go to hell”, tambahnya (lagi-lagi) dengan angkuhnya.

Sampai di sini, timbul beberapa pertanyaan yang cukup menggelitik. Apakah Zlatan merupakan sosok yang arogan semata? Seberapa tinggi level arogansi Zlatan? Seberapa hebat hingga Zlatan dapat searogan itu?

Apa yang menyebabkan Zlatan sangat arogan?

Apakah I am Zlatan dapat menjawab segala arogansi Zlatan? Bisa iya, bisa tidak.

Yang jelas, I am Zlatan dapat memberikan perspektif baru bagi kita untuk memandang Zlatan secara lebih baik.

Dalam seperempat pertama buku ini, kita dapat mengetahui jika Zlatan lahir dan tumbuh tidak dalam lingkungan yang harmonis. Hidup dalam keluarga imigran asal Balkan di Malmo, Swedia, Zlatan kecil tumbuh bersama orang tuanya yang telah bercerai sejak Zlatan belum menginjak usia dua tahun. Ayahnya adalah seorang imigran asal Bosnia yang terkena imbas Balkan Wars dan juga seorang pemabuk berat. Ibunya adalah seorang pekerja serabutan dan tidak segan-segan untuk memukul Zlatan dengan sendok kayu jika dirinya kedapatan berbuat salah.

Mengingat keluarganya merupakan keluarga miskin layaknya banyak keluarga lainnya di Rosengard yang menjadi perkampungan kumuh bagi para imigran, Zlatan kecil pun menjadi pencuri sepeda ulung. Zlatan kecil juga sering mendapati dirinya kelaparan karena stok makanan tidak ada hingga di kemudian hari Zlatan tidak menyukai kulkas yang kosong. Zlatan pun akhirnya bersahabat dengan sepakbola dan sepeda hasil curiannya. Dia sendiri mengaku jika kelak ia tidak menjadi pesepakbola, mungkin Zlatan akan menjadi kriminal.

Sejak berumur enam tahun, dia telah masuk sebuah klub sepakbola yaitu MBI atau Malmo Ball and Sporting Association. Sejak kecil, Zlatan seringkali dianggap terlalu banyak menggiring bola dan meneriaki rekan setimnya. Sering pula, Zlatan dibangkucadangkan karena dirinya yang selalu banyak tingkah. Toh, sejak kecil pula, Zlatan sudah termasuk produktif dalam mencetak gol.

Setelah MBI, Zlatan beranjak ke tim junior Malmo FF di usia tiga belas tahun. Setali tiga uang ketika berada di MBI, Zlatan juga kurang disukai di Malmo FF. Tidak hanya rekan setim, banyak orang tua dari rekan setimnya yang menganggap Zlatan terlalu egois. Namun sekali lagi, Zlatan tetap berhasil memperlihatkan sinarnya dan masuk ke tim senior, hingga dirinya dikontrak oleh Ajax dengan harga 85 million kronor (mata uang Swedia) atau setara dengan 10 juta US dollars. Angka tersebut merupakan rekor tertinggi saat itu bagi pemain skandinavia.

Ajax sejak dulu dipandang sebagai tim yang dapat menjadi batu loncatan bagi pemain muda untuk direkrut oleh klub lain yang lebih besar. Dengan kondisi tersebut, banyak sesama pemain yang ingin mencoba untuk terlihat lebih hebat hingga tak pelak menciptakan iklim persaingan yang kurang sehat di tubuh Ajax. Kemudian persaingan tersebut pun mengerucut antara – tentu saja – Zlatan, dengan seseorang yang menurut Zlatan terlalu bersikeras untuk terlihat hebat, Rafael van der Vaart. Seperti yang bisa dilihat saat ini jika Zlatan lah yang tersenyum di akhir. Van der Vaart pun mungkin tetap dapat tersenyum. Simpul.

Setelah melejit di Ajax, Zlatan pun terbang ke Turin untuk bergabung dengan Juventus. Di Turin, Zlatan bertemu dengan salah satu dari sedikit pelatih yang diseganinya, Fabio Capello. Dengan asuhan Capello pula lah, Zlatan yang tadinya pesepakbola yang hanya mengandalkan permainan cantik dan dribble, berganti menjadi striker haus gol hingga Zlatan mendapat peringkat ketiga dari daftar top skor Serie-A. Zlatan juga mendapatkan dua scudetto bersama Juve sebelum skandal calciopoli menyeruak.

Skandal calciopoli menyebabkan Juve harus rela melepaskan dua scudetto serta turun ke Serie-B. Tak ayal, Zlatan dan pemain-pemain Juve lainnya pun hengkang. Zlatan memilih Inter Milan dalam melanjutkan karirnya. Medio awal karir Zlatan di Inter juga ditandai dengan kelahiran anak pertamanya, Maximilian. Kemudian berturut-turut, Zlatan mempersembahkan dua scudetto sekaligus meraih capocannoniere (gelar top skor Serie-A). Namun, demi memimpikan gelar Liga Champions, Zlatan pun terbang ke Barcelona dan menjadi pemain Barca.

Sampai di sini dulu kita membahas perjalanan karir striker jangkung setinggi 195 cm tersebut. Meminjam definisi arogan menurut wiktionary di paragraf pertama, dikatakan jika superioritas melahirkan sikap memaksa dan pongah.

Superioritas merupakan kata kunci untuk menjelaskan mengapa Zlatan sangat arogan. Tentu saja bukan berarti setiap orang yang superior haruslah bersikap pongah nan angkuh, pun superioritas tidak dapat dijadikan untuk menjadi justifikasi seseorang untuk bersikap arogan. Tapi paling tidak kita memahami jika salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi agar sah untuk bertingkah angkuh nan arogan adalah dengan superioritas orang itu sendiri. Yang menjadi persoalan adalah, sebegitu superior kah Zlatan? Bagaimana mengukur superioritas seseorang?

Untuk menakar superioritas seseorang, yang paling mudah adalah dengan ukuran prestasi yang diraih. Seseorang dapat dikatakan superior jika dirinya menjadi juara. Dan jelas, jika menelusuri rekam jejak karirnya, Zlatan adalah seorang juara.

Beragam klub besar telah Zlatan bela mulai dari Malmo FF, Ajax, Juventus, Inter hingga Barcelona, AC Milan dan Paris Saint Germain yang belum dibahas. Mudah saja untuk menyebutkan sederet prestasi yang telah Zlatan raih bersama klub-klub besar tersebut. Bahkan cukup mudah untuk mengambil secuplik prestasi Zlatan untuk menunjukkan superioritasnya; di setiap klub yang dibela Zlatan, hampir dapat dipastikan klub tersebut merengkuh juara liga.

Dengan gelar, Zlatan mengukuhkan suatu hal yang cukup penting. Hal penting tersebut adalah pembuktian. Zlatan dapat membuktikan apapun yang perlu dibuktikan pada sekelilingnya. Zlatan dapat membuktikan jika Zlatan bisa menjadi pesepakbola hebat kendati ayahnya hampir tidak pernah datang ke sesi latihan. Zlatan juga membuktikan jika dirinya mampu meraih gelar juara bersama Juventus dan Inter Milan yang saat itu belum pernah lagi mendapatkan scudetto selama belasan tahun. Bahkan, Zlatan cukup berjasa untuk membaurkan pemain-pemain Inter Milan yang saat itu masih terpisah oleh sekat-sekat kebangsaan. Zlatan bisa membungkam Aftonbladet, tabloid asal Swedia yang pernah mencelanya, Zlatan pemain terbaik Swedia, Zlatan meraih FIFA Puskas Award 2013 untuk Goal of the Year dengan tendangan saltonya yang monumental. Zlatan meraih ini. Zlatan meraih itu. Saya tidak akan memperpanjang paragraf ini dengan deretan prestasi –atau yang saya lebih suka menyebutnya dengan pembuktian Zlatan.

Ya. Pembuktian. Hanya dengan cara itulah kita bisa memaklumi Zlatan dengan segala arogansinya dan tingkah pongahnya baik di dalam maupun di luar lapangan. Memang, ada beberapa hal yang tidak bisa Zlatan raih, misalnya gelar Liga Champions ketika Zlatan pindah ke Barcelona ataupun Piala Dunia. Namun, rasa-rasanya, pembuktian yang telah Zlatan tunjukkan sepanjang karirnya cukup memberikan perspektif baru bagaimana memaklumi Zlatan dengan segala arogansinya.

Ya. Pembuktian. I am Zlatan adalah suatu bentuk pembuktian bagi Zlatan. I am Zlatan menawarkan perspektif baru untuk memaklumi tingkahnya yang arogan.

Ya. Pembuktian. Selain sepadan dengan kata arogan, kata Zlatan pun dapat digunakan sebagai kata ganti pembuktian.

Sebuah Ode tentang Hujan: Tragedi di Penghujung Tahun 2014

Tulisan ini saya awali dengan mengutip kata-kata legendaris dari komedian legendaris pula.

I always like walking in the rain, so no one can see me crying.”

(Charlie Caplin)

Hujan tak henti-hentinya  mengguyur deras, membasahi setiap jengkal Jakarta di penghujung tahun 2014. Terus mericik sejak pagi hingga tulisan ini dibuat, seolah-olah semesta ingin menyampaikan suatu pertanda untuk kita di penghujung tahun 2014. Bersamaan dengan guyuran hujan deras, 2014 ditutup dengan berbagai tragedi.

Musibah tiba-tiba datang bertubi-tubi seakan berlomba untuk menutup tahun. Seperti datangnya hujan yang berlomba jatuh ke tanah.

Mulai dari longsor di Banjarnegara pada tanggal 12 Desember 2014, kebakaran di Pasar Klewer, Solo, pada 27 Desember 2014, hingga musibah pesawat hilang AirAsia QZ8501 tujuan Surabaya-Singapura pada 28 Desember 2014. Untuk peristwa terakhir, telah disimpulkan jika pesawat AirAsia QZ8501 telah jatuh di pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.


Kita tidak akan pernah tahu di mana rintik hujan akan jatuh. Kita dapat mengetahui di mana akan turun hujan, tapi tidak akan pernah mengetahui persisnya rintik hujan akan jatuh. Proses terciptanya hujan diawali dengan udara yang terangkat, lalu mengkristal dalam dingin, dan kemudian melayang jatuh menjadi air.

Hujan mengetuk dan membasahi apapun yang disentuhnya, mulai dari genting, dedaunan, aspal, lantai, gemericik air di selokan, tanah, mobil yang sedang lalu lalang, bunga melati yang ditanam ibu di pekarangan rumah, jendela, tangan, kepala, hingga pipi dan pelupuk mata banyak korban dan keluarga korban yang telah lebih dulu basah karena isak tangis akibat berbagai musibah yang datang di penghujung tahun 2014.

Dalam sebuah hujan, terdapat ribuan titik air yang jatuh. Bagi keluarga korban musibah-musibah tersebut, mungkin sebanyak itulah rasa kecemasan yang  jatuh melanda.

Pun dalam sebuah hujan, terdapat berjuta-juta kubik air yang tumpah. Bagi keluarga korban musibah-musibah tersebut, mungkin sebanyak itu pulalah airmata yang tumpah dan harus diusap oleh tangan.

Hujan di penghujung tahun ini sangat pekat, gelap, dan bernuansa melankolia.


Bagi penyair Sapardi Djoko Damono yang lekat dengan hujan, hujan adalah isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan dan menjadikannya tiada. Pun dalam puisinya yang bertajuk Hujan dalam Komposisi, 1, ia mempertanyakan makna sebuah hujan.

“Apakah yang kautangkap dari swara hujan, dari daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela? Apakah yang kautangkap dari bau tanah, dari ricik air yang turun di selokan?”

Hujan Dalam Komposisi, 1 (Sapardi Djoko Damono, 1969)

Bau tanah.

Bau tanah dalam puisi tersebut merujuk pada petrichor, aroma yang hadir acapkali hujan membasahi tanah.

Bau tanah sehabis hujan selalu menimbulkan aroma yang khas. Aroma yang khas dan mudah dikenali.

Semudah seorang perempuan hamil 6 bulan, ketika mengenali parfum suaminya, yang bertugas sebagai pramugara AirAsia QZ8501.

Semudah ibu mengenali bau bedak bagi bayinya yang tertimbun tanah, pada longsor di Banjarnegara.

Semudah para pedagang mengenali bau tekstil tempat mereka mencari nafkah yang kini habis terbakar di Pasar Klewer, Solo.

Tapi tentu saja tidak semudah menghapus kesedihan bagi keluarga serta kerabat yang ditinggalkan. Mengenali bau petrichor juga tidak semudah menghapus kecemasan. Mengutip puisi Mario F. Lawi dalam puisinya yang berjudul Lost! barangkali cocok menggambarkan kekhawatiran para kerabat korban bencana.

Berjagalah, Ibu, seperti nyala dian

Seperti tuan pesta menantikan anggur terbaik

Dikeluarkan dari tempat penyimpanan

 Lost! (Mario F. Lawi)

Lost. Hilang. Kehilangan. Dalam sebuah musibah, yang hilang tidak hanya harta dan nyawa, namun juga waktu dan ruang. Kehilangan akan selalu meninggalkan luka nganga yang teramat dalam. Luka yang akan selalu basah dan tak pernah kering.

Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikan hujan deras ini, pun tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menggagalkan longsor di Banjarnegara, kebakaran di Pasar Klewer, dan Pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikan musibah.

Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menunjukkan empati, mengulurkan uluran tangan, dan mengirimkan doa. Semoga setiap doa, penghiburan, serta pengharapan yang telah dipanjatkan untuk korban bencana dapat menjadi atap.

Atap untuk berteduh.

Hingga hujan ini reda.

Benedictus Gemilang Adinda, 31 Desember 2014

Getah Kepengurusan Sepak Bola Indonesia yang Tak Terurus

Manfaatkan hasil clearance Zulkifli Syukur yang tidak sempurna, pemain pengganti Vietnam, Chong Vinh Lee, mencetak gol yang mengubah kedudukan menjadi 2-1.  Tidak tinggal diam, pelatih tim nasional Indonesa berkebangsaan Australia, Alfred Riedl, memasukkan Samsul Arif menggantikan pemain senior Boaz Salossa guna menambah daya gedor.  Enam menit jelang bubaran, pergantian ini berbuah manis dengan gol yang dicetak oleh Samsul Arif sekaligus sebagai penyama kedudukan menjadi 2-2. Angka ini bertahan hingga peluit akhir dibunyikan. Meskipun ada beberapa catatan penting di laga ini, dari segi hasil, imbang melawan tim tuan rumah yang didukung ribuan penonton merupakan hasil yang tidak buruk-buruk amat.

Optimisme pun sedikit-banyak tumbuh pada masyarakat.

Namun harapan tersebut seperti sirna begitu saja setelah mengetahui apa yang terjadi di laga kedua putaran grup, AFF 2014. Filipina mengandaskan Indonesia dengan skor 4-0, negara yang menganaktirikan olahraga sepakbola dapat menghancurkan negara yang menganakemaskan sepakbola (dengan kucuran APBN, sponsor, dukungan penggemar sepak bola Indonesia yang sudah mencapai taraf ‘gila’, dll-), dengan empat gol tanpa balas di stadion My Dinh, Vietnam.

Dengan jumlah poin serta selisih gol yang didapat, kemungkinan untuk lolos pun mengecil menjadi sangat sempit, bahkan lebih sempit dari lubang jarum. Dan pada kenyataanya memang kita tersingkir dari AFF 2014 meskipun kita mengalahkan Laos dengan skor telak 5-1, karena di tempat lain, Vietnam mengandaskan Filipina dengan skor 3-1. Bahkan jika Filipina menang pun, kita belum tentu lolos karena defisit gol antara Indonesia dan Vietnam yang terlampau jauh.

Demikian kilas balik perjalanan getir timnas Indonesia pada AFF 2014. Mungkin bisa dibilang, ini merupakan sekuel dari perjalanan timnas Indonesia  pada AFF 2012 yang bertempat di Malaysia, di mana Indonesia juga tersingkir pada putaran grup.

Saat itu, sejumlah pihak melontarkan kritik terhadap Nil Maizar selaku pelatih timnas Indonesia di AFF 2012 atas kegagalan timnas. Kini, beberapa pihak lainnya mengacungkan jari telunjuknya, menuding Alfred Riedl atas kegagalan timnas. Adilkah penilaian tersebut?

Untuk saya tidak. Berikut penilaian saya. As a reminder, tentu saja tulisan ini sangat terbuka dengan argumentasi, opini, dan sudut pandang lain.

Kala AFF 2012, skuat timnas Indonesia yang berlaga di Kuala Lumpur bukanlah skuat terbaik yang kita miliki. Dualisme kepengurusan menyebabkan pilihan pemain timnas kala itu sangat terbatas. Nil Maizar hanya dapat memilih pemain yang berkompetisi di Indonesian Premier League, sedangkan pemain langganan timnas berlaga di Liga Super Indonesia (ISL). Bambang Pamungkas, Vendry Mofu, Taufiq, dan Andik hanyalah sedikit nama-nama bonafid yang terdapat dalam daftar pemain timnas. Naturalisasi pemain pun saat itu tidak banyak membantu, mulai dari Raphael Maitimo, Tonnie Cussell, hingga striker bertubuh gempal seperti Jhonny van Beukering. Dengan keterbatasan tersebut, pantaskah kita menyalahkan kegagalan Nil Maizar atas AFF 2012?

Begitu pula pada AFF 2014 yang digelar di Vietnam. Riedl baru dikonfirmasi menjadi pelatih Indonesia ketika gelaran AFF 2014 hanya kurang dari dua bulan saja, itu artinya Riedl harus menyeleksi pemain, mood-making, uji coba, dan membangun koordinasi skuat mulai dari formasi, taktik, strategi, hingga starting eleven, hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan saja. Ditambah lagi kompetisi ISL sendiri masih berlangsung hingga November dan uji coba hanya dilakukan satu kali melawan Suriah. Itupun sekaligus proses seleksi. Mepetnya persiapan menyebabkan Riedl kesulitan meramu komposisi terbaik tim merah-putih. Meminjam kalimat akhir pada paragraf sebelumnya, dengan keterbatasan tersebut, pantaskah kita menyalahkan Alfred Riedl atas AFF 2014?

Dengan segala keterbatasan tersebut, pelatih sekelas Jose Mourinho atau Pep Guardiola pun tidak akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Jangan salah, bukan berarti mereka (Nil Maizar dan Alfred Riedl) menjalankan tugas mereka sebagai pelatih tanpa cela. Kita tahu pada AFF 2012, seorang pemain bertubuh gempal – jika kata obesitas terlalu kasar – seperti Jhonny van Beukering dijadikan starting line-up pada semua pertandingan kala itu oleh Nil Maizar. Padahal dengan tubuh obesitas “berisi” seperti itu, dia sama sekali tidak dapat mengejar umpan terobosan, selalu kalah lari dari bek lawan, dan tidak dapat melompat lebih tinggi dari pemain lain karena tertahan timbunan lemak di perutnya. Pun di AFF 2014, ketika Alfred Riedl kembali tukangi timnas Indonesia setelah di AFF 2010 menjadikan Indonesia sebagai runner-up. Tidak ada yang salah dengan menggunakan pemain gaek seperti Zulkifli dan Firman Utina, pun tidak masalah pula menggunakan pemain naturalisasi seperti Christian Gonzales dan Sergio Van Dijk. Tapi yang patut dipertanyakan, mengapa Riedl tidak mengikutsertakan pemain muda yang secara fisik lebih siap untuk AFF 2014 seperti Andik Vermansyah, atau Maldini Pali misalnya.

Organisasi Sepak Bola Indonesia sebagai Induk Permasalahan

Yang seharusnya (dan sejak dulu) paling bertanggung jawab atas kemerosotan performa timnas adalah PSSI beserta organisasi kepengurusan lainnya seperti PT Liga Indonesia. Hasil ini merupakan pukulan yang sangat keras bagi timnas Indonesia, lebih keras dari knock-out punch yang dilayangkan Muhammad Ali dan menghempaskan tubuh George  Foreman ke kanvas ring, dan kita telah menerima pukulan ini untuk kesekian kali. Penjadwalan kompetisi yang buruk, sirkus politik dan kepentingan yang tak pernah usai, pemilihan pelatih yang mepet dengan waktu persiapan, korupsi menjamur di berbagai tingkat kepengurusan, fasilitas lapangan yang tidak memadai, tunggakan gaji pemain yang disebabkan ketidakjelasan regulasi anggaran, dan sederet bentuk keteledoran lainnya.  Inkompeten kepengurusan pun diperparah dengan kebebalan menggunakan sistem yang sama.

Ketidakbecusan dalam mengurus organisasi sepak bola Indonesia seperti telah menjadi repetisi bagi PSSI, baik dari zaman Azwar Anas, Agum Gumelar, Nurdin Halid, hingga Djohar Arifin. Seperti yang sudah-sudah, PSSI hanya menjanjikan evaluasi, yang biasanya hanya akan menguap sebagai janji tanpa eksekusi berarti.  Kepengurusan seperti ini tidak akan membuat sepak bola nasional melangkah maju, mungkin mandek, atau malah mundur. Menurut cermat saya, hal yang paling penting dalam persepakbolaan Indonesia saat ini bukanlah mendapatkan pemain di antara dua ratus jiwa penduduk Indonesia. Namun, yang paling krusial adalah menemukan sejumlah pengurus di antara dua ratus jiwa penduduk, yang dapat dipercaya untuk mengelola sepak bola Indonesia.

Revolusioner kiri Tan Malaka, pada naar de Republiek Indonesia, menyatakan jika kita tak bisa mendapatkan kemenangan yang lengkap, sedapat mungkin kita terhindar dari kekalahan. Jangankan untuk mendapatkan kemenangan yang lengkap, yang terjadi adalah kita selalu tidak dapat menghindar dari kekalahan serta kenyataan yang pahit dan getir. Rasa pahit dan getir ini pun akan selalu kita kecap, getah dari kepengurusan yang tidak terurus.

The Decision

One of boldest newspaper in Jakarta – personally, I think this is the best newspaper in Indonesia – The Jakarta Post (Jakpost), declares that they’re endorsing Jokowi in the 3rd Indonesian presidential election. When the things became so crucial, we should take our decision to the best choice – borrowing Jakpost’s opening line on ‘Endorsing Jokowi’ – “there is no such thing as being neutral when the stakes are so high.” Taking side doesn’t mean you’re contravene with independency. Independency itself is way different than being neutral. When being neutral is choosing to not to take a side, independency brings you to stand on the right side, that is Jokowi. However, what I want to discuss in this writing is not about the announcement of Jakarta Post. Rather than that, I would like to focus on why we have to hand over our future to the right one. The day when we stab the nail in a ballot paper, more or less, indirectly determine of direction where Indonesia will be going.

I am not into less evil choice -ism to be a reason for my decision to choose Jokowi. Rather than that, for all kinds of reason, I put moral choice on the top of my reason why I am also supporting Jokowi. Indonesia at the crossroads. The fear of the chaotic of ’98 always haunting my childhood memories and I bet many people feel the same. The collective memories talk indeed. How vandalism, raping, kidnapping, human rights fallacies, and many other riot than happen caused by political upheaval at that day. New Order always be a nightmare, freedom can’t be taken for granted.

Black marks of New Order has been embedded in our head. Leaving the pros and cons, the truth is, Prabowo Subianto has responsibility to that dark era. He was known as a former Rose Team Leader, a team that had judged guilty of kidnappings many activists. The team has hid behind words “for their conscience, the state and nation”, while it seems to be for preserve the seat that Soeharto and fam sitting on. The other human right cases also brought the name of that former Special Forces Commander such as a village called Krakas, some 300 km from the capital Dili, in the district of Viqueque.

No wonder if the more numbers of (families & friends) victims are shouting loudly about human rights towards Prabowo Subianto before the election. It’s all about momentum, oportuneness, timeliness, and proximity. Fine if Prabowo assumes it is a negative campaign, while afterall, that is a fact, not a slander, nor a black campaign. But there is no other opportunity as good as this time, to reveal who Prabowo is.

Do not forget to mention Hatta Rajasa, whose being his own vice presidential. As well as Prabowo, Hatta Rajasa has a dark past. And a bad blue print too. In short, he is one of few figures that support to Bay Benoa (Bali) Reclamation, a project that destroyed coral reefs, mangrove forest, and other nature malfunctions. Also do not forget to his colleagues & coalition such as Aburizal Bakrie (head of Lapindo that spreaded mud flow in Sidoarjo & head of television stations & newspaper that oftenly broke journalism code of ethics), PKS & FPI, a hard-line Islamic group that conduct many numerous intolerant cases, and so on.

Prabowo Subianto itself as a person has being sufficient for me to not to give a single piercing on his photograph of ballot paper. I don’t give a rat ass to the person that has involved into many human rights cases. He made many traumatic to many mothers that hoping their lost-sons/daughters are back to the home, dropped the tears of many wifes and childs. The matter point is, it will be a big sin to hand over our future upon his bloodied hand. I don’t deign at all.

Don’t get me wrong, I’m not saying Jokowi and his team is a perfect choice. His inner circle is dangerous as well as Prabowo. The names like Hendripriyono and Wiranto are not a good guy. The first one deemed as a brain killer of Munir and responsible for genocide in Lampung. The second one also had many problematiques in human right issues such as riot, May ’98, and Santa Cruz genocide, in Dili, Timor Leste. Looking for Megawati, I realizing something. Back at 2009, she ran to be one of the presidential candidate with Prabowo. She also puts Hendripriyono in important position in PDIP. At one point, I am less comfortable with Jusuf Kalla’s statement in a controversial documentary-movie, Act of Killing. He stated that we need to legalize gangster to get things done.

The main reason why I stand on him is because hope. There is no hope in bloodied-hand leader, but there is a glimmer hope in clean-hand leader. Known as down-to-earth person, humble, and uncorrupt mayor based on his track record, why we should give him an occassion? He has not a business dynasties, his parents is a farmer.

His weakness is he thinks that everybody is good buddies. He was barely new, naive, and lack of political experience. So he never thought that there are many enemies who wants to bring him down. But, that’s why I support him. His innocent attitude never make him into wrongly decision. He was born in a lower class society, his heart of all that he did was to society. Back in Solo and now lead in Jakarta as a governor, his works could be felt by public. Therefore, I would like to say, only Jokowi could bring a change to Indonesia.

“we are morally bound to not stand by and do nothing. We do not expect our endorsement to sway votes. But we cannot idly sit on the fence when the alternative is too ominous to consider.”

(Jakarta Post, Jul 4th, 2014, on Endorsing Jokowi)

Indonesia no need to feel the damage again as hurtful as ’98. No need. Now, we get our freedom, not for free, not cheaply, not easily. Reformation, bureaucracy, and democracy that we breathe today can’t be hand over to the bloodied hand one. No I won’t.  We reach the fundamental stage. We know who had rotted down to the roots. We know the seed that still can be repaired. We knew it. A bulk of immoral track record on the left side candidate was clearly enough for me to not giving my ticket. Aftermath, I left the left side. Right here, right now, I stand on the right side.

Memilih Untuk Memilih atau Memilih Untuk Tidak Memilih

Sebelum anda membaca tulisan ini, saya akan menekankan bahwa saya bukanlah praktisi politik handal, hanya seorang mahasiswa komunikasi massa yang memiliki opini personal mengenai fenomena politik di Indonesia yang terjadi belakangan ini. Untuk itu, segala kekurangan dalam tulisan ini mohon pemaklumannya.


Hari demi hari berganti, Indonesia semakin kental dengan suasana pemilu dan partai-partai politik semakin sibuk dengan berbagai kegiatan politiknya masing-masing. Menilik isu-isu yang berkembang di pemilihan umum (pemilu) 2014 ini saya menangkap isu yang cukup sering dibahas mengenai golongan pemilih (mereka yang memilih untuk memilih dalam pemilu) dan golongan putih (mereka yang memilih untuk tidak memilih). Pada paragraf selanjutnya, saya akan membagi ke-2 golongan tersebut menjadi voters dan golput.

Voters berpendapat bahwa satu suara dalam pemilu berdampak positif bagi kelangsungan negara. Dengan memilih, mereka yakin jika mereka memberikan kesempatan menang lebih besar terhadap pilihan yang mereka yakini merupakan sosok/partai yang tepat untuk membenahi Indonesia. Mereka memilih untuk memilih.

Kemudian kita akan membahas golput. Golput terdiri dari 2 bagian yakni;

1)    golput teknis (tidak dapat memilih karena faktor-faktor teknis misalnya nama tidak terdaftar dalam DPT) dan,

2)    golput substantif (memiliki hak pilih namun dengan kesadaran sendiri tidak memilih).

Saya hanya akan membahas golput substantif saja. Golongan ini merupakan kumpulan individu yang pesimis –beberapa apatis- dan sudah tidak percaya lagi adanya calon legislatif/presiden yang memiliki niat baik dalam rangka untuk memajukan negara. Mereka juga memandang jika pemilihan umum tidak akan mampu mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik. Mereka memilih untuk tidak memilih.

Hans David, seorang jurnalis dari Jakarta Post dalam blognya menuturkan, “The lesser of all evils is still an evil.” Kemudian, ia menambahkan,”Jika calon A punya track record pernah korupsi 100 M, calon B 200 M dan calon C 300 M, tetap saja memilih calon A adalah memilih seorang koruptor untuk menjadi pemimpin. Dan begitu dia menjadi pemimpin, hampir bisa dipastikan korupsinya lebih gila dari calon B dan calon C digabung.” For Your Info, dia merupakan salah satu tokoh yang cukup vokal mengenai golput. Hans David beranggapan (correct me if I’m wrong) bahwa tidak ada pemimpin yang dapat dipercaya untuk benar- benar bersih memimpin serigala-serigala di DPR yang menjilat demi mengeruk keuntungan pribadi maupun kelompok. Prinsipnya, para calon pemimpin hanya melahirkan jargon-jargon semu kampanye yang tidak akan bisa direalisasikan ketika calon pemimpin tersebut sudah memimpin.

Selanjutnya, kelompok voters beranggapan bahwa demokrasi berarti ‘dealing with humans’. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Namun, voters merasa bahwa beberapa tokoh layak diberi kesempatan untuk memimpin negeri. Mereka memilih dengan menggantungkan harapan di bahu pemimpin yang mereka pilih sambil mengawasi jalannya kehidupan bernegara ketika mereka dipimpin.

Sejujurnya, saya harus mengatakan jika saya tidak tahu sisi mana yang tepat mengingat saya pun sudah memiliki hak pilih. Saya tidak dapat membenarkan – juga tidak dapat menyalahkan ketika ada banyak orang yang apatis terhadap pemilu dengan sistemnya yang semakin carut-marut dari waktu ke waktu, kemudian memilih untuk tidak memilih. Belum lagi dengan kebanyakan kampanye yang hanya menyuarakan gagasan tanpa menjelaskan secara jelas dan terstruktur bagaimana program-program tersebut (akan) berjalan beserta kendalanya dan kaitannya dengan isu dunia. Hanya jargon minim substansi.

Saya pun tidak dapat menyetujui maupun tidak dapat untuk tidak menyetujui jika kita harus memilih untuk memilih dalam pemilu nanti. Saya juga mengharapkan adanya satria piningit atau ratu adil pada sosok calon-calon yang ada, dan akan sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakan hak pilih kita yang dapat digunakan lebih-kurang 5 tahun sekali. Dengan menggunakan hak pilih kita, kita bisa memberikan kesempatan orang-orang bersih dalam sebuah partai untuk berkarya dalam politik Indonesia.

Sekali lagi, sejujurnya saya tidak dapat menentukan mana pilihan yang paling tepat karena saya pun belum menentukan pilihan apakah saya akan memilih untuk memilih atau memilih untuk tidak memilih. Akan tetapi, baik golongan voters maupun golput nampaknya tidak perlu mempermasalahkan keputusan yang diambil 1 sama lain. Karena perlu ditekankan, pada hakekatnya dalam proses demokrasi, pemilih berhak memilih untuk memilih, maupun berhak memilih untuk tidak memilih. Namun, saya bisa memberikan sedikit arahan jika pembaca sudah menetapkan pilihan dalam menggunakan hak pilih anda.



  • Tetap pergi ke TPU (tempat pemilihan umum) dan coblos partai sebanyak-banyaknya. Buatlah agar kertas suaramu menjadi cacat/tidak sah serta meminimalisir kecurangan.
  • Tetap awasi jalannya pemungutan suara dan lapor kepada panitia pengawas pemilu jika ada hal-hal yang mencurigakan.


  • Membiarkan kertas suara tetap bersih tidak ternoda. Dikhawatirkan nantinya kertas suara milik anda akan digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.



  • Mencari informasi program-program sebanyak-banyaknya terhadap tiap calon dalam dapil wilayah anda.
  • Mengecek apakah nama anda sudah terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).


  • Tidak mencari tahu track record/sejarah calon pilihanmu, jangan sampai anda memilih calon presiden pelanggar HAM Internasional (Yes, I do sarcasm-thingy :p).


Last but not least, saya hanya dapat berpesan bahwa setiap individu di Indonesia wajib melek politik. Boleh anti-politik tapi jangan buta politik. Jangan mau dibodohi oleh penguasa lagi karena kamu tidak mengerti apa-apa tentang politik.


Benedictus Gemilang, Mon, Mar 17 2014 16:49 WIB

ditulis dalam hiruk-pikuk kampanye di bagian timur kota Jakarta