Memilih Untuk Memilih atau Memilih Untuk Tidak Memilih

Sebelum anda membaca tulisan ini, saya akan menekankan bahwa saya bukanlah praktisi politik handal, hanya seorang mahasiswa komunikasi massa yang memiliki opini personal mengenai fenomena politik di Indonesia yang terjadi belakangan ini. Untuk itu, segala kekurangan dalam tulisan ini mohon pemaklumannya.

  *****

Hari demi hari berganti, Indonesia semakin kental dengan suasana pemilu dan partai-partai politik semakin sibuk dengan berbagai kegiatan politiknya masing-masing. Menilik isu-isu yang berkembang di pemilihan umum (pemilu) 2014 ini saya menangkap isu yang cukup sering dibahas mengenai golongan pemilih (mereka yang memilih untuk memilih dalam pemilu) dan golongan putih (mereka yang memilih untuk tidak memilih). Pada paragraf selanjutnya, saya akan membagi ke-2 golongan tersebut menjadi voters dan golput.

Voters berpendapat bahwa satu suara dalam pemilu berdampak positif bagi kelangsungan negara. Dengan memilih, mereka yakin jika mereka memberikan kesempatan menang lebih besar terhadap pilihan yang mereka yakini merupakan sosok/partai yang tepat untuk membenahi Indonesia. Mereka memilih untuk memilih.

Kemudian kita akan membahas golput. Golput terdiri dari 2 bagian yakni;

1)    golput teknis (tidak dapat memilih karena faktor-faktor teknis misalnya nama tidak terdaftar dalam DPT) dan,

2)    golput substantif (memiliki hak pilih namun dengan kesadaran sendiri tidak memilih).

Saya hanya akan membahas golput substantif saja. Golongan ini merupakan kumpulan individu yang pesimis –beberapa apatis- dan sudah tidak percaya lagi adanya calon legislatif/presiden yang memiliki niat baik dalam rangka untuk memajukan negara. Mereka juga memandang jika pemilihan umum tidak akan mampu mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik. Mereka memilih untuk tidak memilih.

Hans David, seorang jurnalis dari Jakarta Post dalam blognya menuturkan, “The lesser of all evils is still an evil.” Kemudian, ia menambahkan,”Jika calon A punya track record pernah korupsi 100 M, calon B 200 M dan calon C 300 M, tetap saja memilih calon A adalah memilih seorang koruptor untuk menjadi pemimpin. Dan begitu dia menjadi pemimpin, hampir bisa dipastikan korupsinya lebih gila dari calon B dan calon C digabung.” For Your Info, dia merupakan salah satu tokoh yang cukup vokal mengenai golput. Hans David beranggapan (correct me if I’m wrong) bahwa tidak ada pemimpin yang dapat dipercaya untuk benar- benar bersih memimpin serigala-serigala di DPR yang menjilat demi mengeruk keuntungan pribadi maupun kelompok. Prinsipnya, para calon pemimpin hanya melahirkan jargon-jargon semu kampanye yang tidak akan bisa direalisasikan ketika calon pemimpin tersebut sudah memimpin.

Selanjutnya, kelompok voters beranggapan bahwa demokrasi berarti ‘dealing with humans’. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Namun, voters merasa bahwa beberapa tokoh layak diberi kesempatan untuk memimpin negeri. Mereka memilih dengan menggantungkan harapan di bahu pemimpin yang mereka pilih sambil mengawasi jalannya kehidupan bernegara ketika mereka dipimpin.

Sejujurnya, saya harus mengatakan jika saya tidak tahu sisi mana yang tepat mengingat saya pun sudah memiliki hak pilih. Saya tidak dapat membenarkan – juga tidak dapat menyalahkan ketika ada banyak orang yang apatis terhadap pemilu dengan sistemnya yang semakin carut-marut dari waktu ke waktu, kemudian memilih untuk tidak memilih. Belum lagi dengan kebanyakan kampanye yang hanya menyuarakan gagasan tanpa menjelaskan secara jelas dan terstruktur bagaimana program-program tersebut (akan) berjalan beserta kendalanya dan kaitannya dengan isu dunia. Hanya jargon minim substansi.

Saya pun tidak dapat menyetujui maupun tidak dapat untuk tidak menyetujui jika kita harus memilih untuk memilih dalam pemilu nanti. Saya juga mengharapkan adanya satria piningit atau ratu adil pada sosok calon-calon yang ada, dan akan sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakan hak pilih kita yang dapat digunakan lebih-kurang 5 tahun sekali. Dengan menggunakan hak pilih kita, kita bisa memberikan kesempatan orang-orang bersih dalam sebuah partai untuk berkarya dalam politik Indonesia.

Sekali lagi, sejujurnya saya tidak dapat menentukan mana pilihan yang paling tepat karena saya pun belum menentukan pilihan apakah saya akan memilih untuk memilih atau memilih untuk tidak memilih. Akan tetapi, baik golongan voters maupun golput nampaknya tidak perlu mempermasalahkan keputusan yang diambil 1 sama lain. Karena perlu ditekankan, pada hakekatnya dalam proses demokrasi, pemilih berhak memilih untuk memilih, maupun berhak memilih untuk tidak memilih. Namun, saya bisa memberikan sedikit arahan jika pembaca sudah menetapkan pilihan dalam menggunakan hak pilih anda.

Golput

DO

  • Tetap pergi ke TPU (tempat pemilihan umum) dan coblos partai sebanyak-banyaknya. Buatlah agar kertas suaramu menjadi cacat/tidak sah serta meminimalisir kecurangan.
  • Tetap awasi jalannya pemungutan suara dan lapor kepada panitia pengawas pemilu jika ada hal-hal yang mencurigakan.

DON’T

  • Membiarkan kertas suara tetap bersih tidak ternoda. Dikhawatirkan nantinya kertas suara milik anda akan digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Voters

DO

  • Mencari informasi program-program sebanyak-banyaknya terhadap tiap calon dalam dapil wilayah anda.
  • Mengecek apakah nama anda sudah terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

DON’T

  • Tidak mencari tahu track record/sejarah calon pilihanmu, jangan sampai anda memilih calon presiden pelanggar HAM Internasional (Yes, I do sarcasm-thingy :p).

 

Last but not least, saya hanya dapat berpesan bahwa setiap individu di Indonesia wajib melek politik. Boleh anti-politik tapi jangan buta politik. Jangan mau dibodohi oleh penguasa lagi karena kamu tidak mengerti apa-apa tentang politik.

 

Benedictus Gemilang, Mon, Mar 17 2014 16:49 WIB

ditulis dalam hiruk-pikuk kampanye di bagian timur kota Jakarta 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s