Getah Kepengurusan Sepak Bola Indonesia yang Tak Terurus

Manfaatkan hasil clearance Zulkifli Syukur yang tidak sempurna, pemain pengganti Vietnam, Chong Vinh Lee, mencetak gol yang mengubah kedudukan menjadi 2-1.  Tidak tinggal diam, pelatih tim nasional Indonesa berkebangsaan Australia, Alfred Riedl, memasukkan Samsul Arif menggantikan pemain senior Boaz Salossa guna menambah daya gedor.  Enam menit jelang bubaran, pergantian ini berbuah manis dengan gol yang dicetak oleh Samsul Arif sekaligus sebagai penyama kedudukan menjadi 2-2. Angka ini bertahan hingga peluit akhir dibunyikan. Meskipun ada beberapa catatan penting di laga ini, dari segi hasil, imbang melawan tim tuan rumah yang didukung ribuan penonton merupakan hasil yang tidak buruk-buruk amat.

Optimisme pun sedikit-banyak tumbuh pada masyarakat.

Namun harapan tersebut seperti sirna begitu saja setelah mengetahui apa yang terjadi di laga kedua putaran grup, AFF 2014. Filipina mengandaskan Indonesia dengan skor 4-0, negara yang menganaktirikan olahraga sepakbola dapat menghancurkan negara yang menganakemaskan sepakbola (dengan kucuran APBN, sponsor, dukungan penggemar sepak bola Indonesia yang sudah mencapai taraf ‘gila’, dll-), dengan empat gol tanpa balas di stadion My Dinh, Vietnam.

Dengan jumlah poin serta selisih gol yang didapat, kemungkinan untuk lolos pun mengecil menjadi sangat sempit, bahkan lebih sempit dari lubang jarum. Dan pada kenyataanya memang kita tersingkir dari AFF 2014 meskipun kita mengalahkan Laos dengan skor telak 5-1, karena di tempat lain, Vietnam mengandaskan Filipina dengan skor 3-1. Bahkan jika Filipina menang pun, kita belum tentu lolos karena defisit gol antara Indonesia dan Vietnam yang terlampau jauh.

Demikian kilas balik perjalanan getir timnas Indonesia pada AFF 2014. Mungkin bisa dibilang, ini merupakan sekuel dari perjalanan timnas Indonesia  pada AFF 2012 yang bertempat di Malaysia, di mana Indonesia juga tersingkir pada putaran grup.

Saat itu, sejumlah pihak melontarkan kritik terhadap Nil Maizar selaku pelatih timnas Indonesia di AFF 2012 atas kegagalan timnas. Kini, beberapa pihak lainnya mengacungkan jari telunjuknya, menuding Alfred Riedl atas kegagalan timnas. Adilkah penilaian tersebut?

Untuk saya tidak. Berikut penilaian saya. As a reminder, tentu saja tulisan ini sangat terbuka dengan argumentasi, opini, dan sudut pandang lain.


Kala AFF 2012, skuat timnas Indonesia yang berlaga di Kuala Lumpur bukanlah skuat terbaik yang kita miliki. Dualisme kepengurusan menyebabkan pilihan pemain timnas kala itu sangat terbatas. Nil Maizar hanya dapat memilih pemain yang berkompetisi di Indonesian Premier League, sedangkan pemain langganan timnas berlaga di Liga Super Indonesia (ISL). Bambang Pamungkas, Vendry Mofu, Taufiq, dan Andik hanyalah sedikit nama-nama bonafid yang terdapat dalam daftar pemain timnas. Naturalisasi pemain pun saat itu tidak banyak membantu, mulai dari Raphael Maitimo, Tonnie Cussell, hingga striker bertubuh gempal seperti Jhonny van Beukering. Dengan keterbatasan tersebut, pantaskah kita menyalahkan kegagalan Nil Maizar atas AFF 2012?

Begitu pula pada AFF 2014 yang digelar di Vietnam. Riedl baru dikonfirmasi menjadi pelatih Indonesia ketika gelaran AFF 2014 hanya kurang dari dua bulan saja, itu artinya Riedl harus menyeleksi pemain, mood-making, uji coba, dan membangun koordinasi skuat mulai dari formasi, taktik, strategi, hingga starting eleven, hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan saja. Ditambah lagi kompetisi ISL sendiri masih berlangsung hingga November dan uji coba hanya dilakukan satu kali melawan Suriah. Itupun sekaligus proses seleksi. Mepetnya persiapan menyebabkan Riedl kesulitan meramu komposisi terbaik tim merah-putih. Meminjam kalimat akhir pada paragraf sebelumnya, dengan keterbatasan tersebut, pantaskah kita menyalahkan Alfred Riedl atas AFF 2014?

Dengan segala keterbatasan tersebut, pelatih sekelas Jose Mourinho atau Pep Guardiola pun tidak akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Jangan salah, bukan berarti mereka (Nil Maizar dan Alfred Riedl) menjalankan tugas mereka sebagai pelatih tanpa cela. Kita tahu pada AFF 2012, seorang pemain bertubuh gempal – jika kata obesitas terlalu kasar – seperti Jhonny van Beukering dijadikan starting line-up pada semua pertandingan kala itu oleh Nil Maizar. Padahal dengan tubuh obesitas “berisi” seperti itu, dia sama sekali tidak dapat mengejar umpan terobosan, selalu kalah lari dari bek lawan, dan tidak dapat melompat lebih tinggi dari pemain lain karena tertahan timbunan lemak di perutnya. Pun di AFF 2014, ketika Alfred Riedl kembali tukangi timnas Indonesia setelah di AFF 2010 menjadikan Indonesia sebagai runner-up. Tidak ada yang salah dengan menggunakan pemain gaek seperti Zulkifli dan Firman Utina, pun tidak masalah pula menggunakan pemain naturalisasi seperti Christian Gonzales dan Sergio Van Dijk. Tapi yang patut dipertanyakan, mengapa Riedl tidak mengikutsertakan pemain muda yang secara fisik lebih siap untuk AFF 2014 seperti Andik Vermansyah, atau Maldini Pali misalnya.

Organisasi Sepak Bola Indonesia sebagai Induk Permasalahan

Yang seharusnya (dan sejak dulu) paling bertanggung jawab atas kemerosotan performa timnas adalah PSSI beserta organisasi kepengurusan lainnya seperti PT Liga Indonesia. Hasil ini merupakan pukulan yang sangat keras bagi timnas Indonesia, lebih keras dari knock-out punch yang dilayangkan Muhammad Ali dan menghempaskan tubuh George  Foreman ke kanvas ring, dan kita telah menerima pukulan ini untuk kesekian kali. Penjadwalan kompetisi yang buruk, sirkus politik dan kepentingan yang tak pernah usai, pemilihan pelatih yang mepet dengan waktu persiapan, korupsi menjamur di berbagai tingkat kepengurusan, fasilitas lapangan yang tidak memadai, tunggakan gaji pemain yang disebabkan ketidakjelasan regulasi anggaran, dan sederet bentuk keteledoran lainnya.  Inkompeten kepengurusan pun diperparah dengan kebebalan menggunakan sistem yang sama.

Ketidakbecusan dalam mengurus organisasi sepak bola Indonesia seperti telah menjadi repetisi bagi PSSI, baik dari zaman Azwar Anas, Agum Gumelar, Nurdin Halid, hingga Djohar Arifin. Seperti yang sudah-sudah, PSSI hanya menjanjikan evaluasi, yang biasanya hanya akan menguap sebagai janji tanpa eksekusi berarti.  Kepengurusan seperti ini tidak akan membuat sepak bola nasional melangkah maju, mungkin mandek, atau malah mundur. Menurut cermat saya, hal yang paling penting dalam persepakbolaan Indonesia saat ini bukanlah mendapatkan pemain di antara dua ratus jiwa penduduk Indonesia. Namun, yang paling krusial adalah menemukan sejumlah pengurus di antara dua ratus jiwa penduduk, yang dapat dipercaya untuk mengelola sepak bola Indonesia.

Revolusioner kiri Tan Malaka, pada naar de Republiek Indonesia, menyatakan jika kita tak bisa mendapatkan kemenangan yang lengkap, sedapat mungkin kita terhindar dari kekalahan. Jangankan untuk mendapatkan kemenangan yang lengkap, yang terjadi adalah kita selalu tidak dapat menghindar dari kekalahan serta kenyataan yang pahit dan getir. Rasa pahit dan getir ini pun akan selalu kita kecap, getah dari kepengurusan yang tidak terurus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s