Tentang Rumah

Penyunting aksara sekaligus penulis asal Amerika, Verlyn Klinkenborg, membuka paragraf pada esainya yang berjudul “The Definition of Home” dalam majalah Smithsonian dengan sebuah pertanyaan: “when did ‘home’ become embedded in human consciousness?” Sejak kapan (kata) “rumah” tertanam dalam kesadaran manusia? Selanjutnya, Klinkenborg kembali bertanya,”is our sense of home instinctive? Are we denning animals or nest builders, or are we, at root, nomadic?

Memang betul, mendefinisikan rumah adalah perihal yang tidak mudah. Entah sejak kapan rumah lebih merujuk kepada kata benda, -dalam konstruksi sosial yang telah terbangun- adalah tentang bangunan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  rumah /ru.mah/ adalah [1] bangunan tempat tinggal; [2] bangunan pada umumnya. Definisi yang begitu sederhana, bahkan bisa dikatakan terlalu sempit pemaknaannya.

Jika tim penyusun KBBI ingin sedikit saja memperlebar pandangan tentang rumah, maka kita akan mendapati pemaknaan yang lebih luas ketimbang sekadar ruang (bangunan) saja. Rumah juga dapat diartikan sebagai suatu wilayah atau letak geografis, seperti kampung halaman, desa, kota, ataupun negara. Selain ruang dan wilayah, rumah juga memiliki kandungan makna kata benda lainnya, yaitu tentang waktu dan (ke) pulang (an).

Jika menarik makna rumah secara lebih luas lagi, rumah bisa diartikan sebagai sebuah kata sifat, misalnya cinta, hangat, nyaman, aman, dll. Bahkan lebih jauh lagi, menurut Zen Rachmat Sugito, rumah juga mengandung makna yang dapat diklasifikasikan sebagai kata kerja, atau paling tidak, perlu dikerjakan, seperti hasrat, mimpi, cita-cita, dsb dll dst.

Ada banyak lagi kemungkinan definisi tentang rumah, namun satu hal yang pasti. Rumah tidak sekadar bangunan.

Kembali ke pertanyaan dalam esai Klinkenborg pada paragraf awal, tentang bagaimana rumah masuk ke dalam kesadaran manusia. Penulis buku The Last Fine Time ini menuturkan jika dalam awal sejarah manusia, mungkin rumah tidak lebih dari api kecil yang samar-samar menyala, menyinari sebuah goa dengan gundukan rayap. Namun, bagaimana pun sebuah rumah, dan bagaimana “rumah” masuk ke dalam kesadaran manusia, itu semua tergantung pengetahuan serta pengalaman personal, bagaimana tiap-tiap kepala manusia berproses dan kemudian mengkonstruksi ulang definisi rumah, sesuai dengan pemahamannya masing-masing.

Kita dapat mengambil contoh, ketika seorang anak kecil merasakan pindah rumah untuk pertama kali. Di rumah barunya, anak tersebut mengalami geger kultur, di mana ia tidak atau belum menemukan teman sebaya untuk bermain bola di lapangan. Di rumah barunya, anak itu tak lagi dapat berkaraoke keras-keras menyanyikan lagu anak-anak disebabkan adanya peraturan yang melarang penggunaan pengeras suara yang berpotensi mengganggu kenyamanan lingkungan. Di rumah barunya, anak itu mengalami kesepian karena orang tuanya seringkali pergi pagi pulang malam mengingat letak rumahnya yang jauh dari kota. Di rumah barunya, anak itu tak lagi merasa nyaman, karena rumah barunya tersebut seringkali bocor di kala hujan. Di rumah barunya, anak itu tak lagi merasa aman, karena ketika orang tuanya bekerja, terkadang anak itu dititipkan oleh paman yang suka mabuk tanpa diketahui oleh orang tua dari anak tersebut. Dari situ, si anak tersebut tidak lagi merasa rumah tersebut sebagai “rumah”. Rumah barunya telah turun tingkat menjadi hanya bangunan tempat tinggal saja, tanpa kehangatan dan kerinduan akan pulang ke rumah. Persis seperti definisi rumah dalam KBBI. Tanpa emosi, tanpa kedekatan.

Rumah sebagai awal

Kedekatan dan emosi di dalam rumah dilahirkan melalui adanya repetisi interaksi dan afeksi antar penghuni rumah. Dan dalam kehidupan manusia, rumah adalah sebuah awal di mana intensitas repetisi dan afeksi didapatkan oleh manusia untuk kali pertama.

Home interprets heaven. Home is heaven for beginners.” (Charles Henry Parkhurst)

Rumah adalah sebuah awal bagi kehidupan manusia. Rumah merupakan batu peletakan pertama bagaimana kepribadian seorang manusia akan terbentuk. Kehadiran “rumah” (bangunan berikut penghuninya) merupakan awal jejak kaki manusia untuk berinteraksi sebelum kemudian dilepas untuk menjejakkan langkah berikutnya, keluar dari rumah.

Rumah dan segala perubahannya

Saya belum menemukan padanan kata homesick dalam bahasa Indonesia, jadi izinkan untuk mencampur aduk kata tersebut dalam kalimat berbahasa Indonesia. Bisakah manusia merasa homesick padahal dia sedang berada di rumah?

Apakah manusia dapat menemukan rumah baru bagi dirinya sendiri?

Apakah rumah yang telah terdegradasi maknanya menjadi sebuah ruang tanpa emosi, bisa kembali naik tingkat menjadi rumah seutuhnya?

Kembali dengan cerita anak kecil yang telah pindah rumah pada paragraf-paragraf sebelumnya. Mari kita lanjutkan ceritanya. Seiring berjalannya waktu, anak itu akhirnya mendapatkan teman-teman, yang meskipun usianya jauh di atas dirinya, tapi dapat menerima anak tersebut dalam pergaulan mereka. Di rumah barunya juga, anak itu dapat mengajak teman-teman tersebut untuk bermain video game. Meskipun orang tuanya pulang malam, di rumah barunya ini lah anak itu dapat berkumpul bersama sepupu-sepupunya yang ternyata memiliki rumah tak jauh dari rumah baru anak itu.  Di rumah barunya ini juga lah, anak itu merasakan pengalaman pertama mengikuti lomba tujuh belasan. Sebuah pengalaman menyenangkan yang belum ia temui pada rumah lamanya. Dan setelah ia mengalami berbagai hal tersebut, anak itu terbiasa dengan rumah barunya dan merasa nyaman di sana.

Pada saat-saat seperti itulah rumah kembali naik kelas, dari yang sebelumnya sekadar bangunan semata, menjadi sebuah kenyamanan. Dan hal ini menjawab pertanyaan apakah kasta sebuah rumah dapat berubah atau tidak tingkatannya, karena definisi rumah sangat fleksibel.

Rumah juga tidak selalu harus sebuah bangunan yang ada di KTP-mu. Bagi seorang suami yang sedang mengalami kisruh rumah tangga, rumah baginya adalah warung rokok yang terjaga sejak malam hingga pagi dengan papan catur, bir, kopi, dan kepulan tukang sate. Bagi seorang yang putus cinta, rumah adalah studio musik dengan fender stratocaster, ampli vox, dan ruang kedap suara. Bagi orang yang ditinggal mati kekasihnya, rumah adalah desir ombak pada pesisir pantai. Dan bagi orang yang sudah putus asa dan tak lagi punya semangat hidup, rumah (dan dunia) adalah sebuah hal yang tak lagi nyata/fana.

Bahkan dengan pandangan yang lebih luas lagi, rumah dapat diartikan tentang seseorang/beberapa orang. Rumah bisa berarti tentang percakapan anak rantau dengan ibunya sambil menyantap sayur asem buatan ibunda yang kelewat dingin karena menunggu kepulangan sang anak. Rumah bisa jadi adalah teman karib, sosok di mana kamu bebas saling mencaci-maki, toyor sana toyor sini, namun di saat yang dibutukan dapat saling menolong satu sama lain. Rumah juga mungkin saja ada di dalam diri seseorang di kilometer jauh yang ingin membuatmu cepat kembali. Rumah pun dapat diurai menjadi semakin fleksibel, dan mungkin kompleks

Begitulah pada akhirnya, tiap kepala manusia akan merekonstruksikan sendiri apa arti rumah bagi mereka berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya masing-masing. Tapi pada akhirnya ada satu elemen yang tidak akan pernah hilang dalam sebuah rumah; bahwa rumah adalah sesuatu yang tidak akan membuatmu merasa asing. Rumah adalah perihal yang kamu jadikan tempat tinggal dan bukan sekadar tinggal tempat. Rumah adalah perihal kembali dan kepulangan, penawar penolakan-penolakan di dunia.  Menutup tulisan ini dengan mengubah sedikit frase milik Adimas Immanuel, rumah adalah kepulangan yang tak buatmu canggung, obat di kala limbung, serta tempat rebah saat beban hidup terasa menggunung.

 

 

Benedictus Gemilang Adinda

Minggu, 17 Januari 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s