Berjalan Kaki di Bangkok bersama Coldplay Melintasi Kenangan

IMG_20170409_204549_155.jpgKira-kira setengah jam berlalu setelah “Up & Up” usai dibawakan oleh Coldplay di Rajamangala Stadium, Jumat, 7 April 2017, saya masih duduk termenung di atas cover grass berwarna putih dengan confetti warna-warni berbentuk bintang berserakan. Sebagian penonton sudah meninggalkan stadion, meskipun ada juga yang masih tinggal untuk mengabadikan momen, sementara saya melihat tribun sudah nyaris kosong melompong. Setelah ikut mengunggah foto demi memenuhi ego eksistensial di era digital, saya dan teman-teman yang ikut menonton beranjak keluar stadion. Sesampainya di luar, kami kesulitan mendapatkan angkutan umum untuk kembali ke hotel di daerah Ramkhamhaeng 22 yang berjarak lebih-kurang satu kilometer dari stadion.

Karena hal tersebut, kami memutuskan untuk berjalan kaki hingga sampai hotel yang kebetulan dapat ditempuh dengan cukup menyusuri jalan Ramkhamhaeng. Meskipun dini hari, trotoar tersebut masih ramai dipadati oleh pedestrian. Bisa ditebak jika mereka juga merupakan penonton konser yang bernasib sama, kesulitan untuk mencari angkutan umum.

Berjalan kaki sejauh lebih-kurang satu kilometer bukan hal yang mudah jika sebelumnya Anda mengantri dari sore hari dan berjingkrak-jingkrak selama dua jam penuh. Pada awal perjalanan, otot pada betis terasa sangat tegang hingga menimbulkan pegal yang cukup hebat. Namun setelah seperempat perjalanan, saya tenggelam dalam papan neon dengan huruf keriting ala Thailand, kegelapan malam, serta pada kenangan yang tiba-tiba mendesak terbayang dalam kepala.

Jika Anda sedang bepergian keluar kota dan tidak bergegas, sesekali cobalah untuk menempuhnya melalui jalan biasa dari kota A ke B hingga kota tujuan Anda ketimbang melalui jalan tol. Dengan jalur seperti itu, niscaya Anda akan mendapatkan waktu (dan ruang) untuk bernapas lebih dalam, memberikan kesegaran baru, menghayati keadaan sekitar, dan membiarkan momen-momen nostalgia, dunia yang sudah lewat, serta rumah masa lalu kembali menyeruak di kepala. Seperti yang saya alami saat berjalan kaki.

Bagi Zen RS (sepertinya saya sudah terlalu sering mengutip beliau namun izinkan saya menyadurnya sekali lagi), ada perbedaan di antara ingatan dan kenangan meskipun seringkali batasan tersebut terasa sangat sumir. Seringkali sulit membedakan ketika keduanya saling memunggungi, berkelindan, dan melanjutkan satu sama lain. Namun ada sedikit hal yang pasti, bahwa ingatan selalu dalam kendali penuh manusia, sedangkan kenangan tidak. Kenangan dapat muncul begitu saja tanpa sempat untuk mengelak, dengan atau tanpa dipicu apapun atau siapapun. Satu kenangan memicu secara cepat rentetan kenangan lainnya hingga menjadi sebuah keutuhan dalam sekejap.  Kenangan tiba-tiba saja bermunculan seperti slide demi slide yang dipindahkan secara cepat dan kita hanya bisa pasrah menerimanya seperti yang saya alami saat berjalan kaki di trotoar Ramkhamhaeng.

Agak sulit untuk mengidentifikasi apakah perjalanan dengan berjalan kaki merupakan faktor penting untuk memicu kenangan. Namun ada sedikit penelitian yang bisa saya tawarkan untuk menjawab hal ini. Studi dari psikolog Stanford University, Matily Opezzo dan Daniel Schwartz (sumber: Tirto.id) mengemukakan adanya hubungan antara kreativitas dan berjalan kaki dengan pengujian yang melibatkan sekitar 40 peserta. Penelitian tersebut menunjukkan jika peserta yang berjalan kaki memberi respon kreatif hingga dua kali lipat ketimbang peserta yang duduk. Tidak heran jika para pemikir tersohor dunia menggemari kegiatan berjalan kaki seperti Marc Zuckerberg, Steve Jobs, hingga pemikir klasik seperti Socrates dan Aristoteles. Respon kreatif erat kaitannya dengan proses kerja otak yang juga berfungsi untuk menyajikan pengetahuan atau pengalaman di masa lampau. Barangkali, berjalan kaki dapat menjadi metode ampuh untuk menghadirkan kembali kenangan.

Segenap kenangan tersebut meluap dan bersinggungan dengan lagu-lagu Coldplay yang masih terngiang jelas di kepala pada saat konser.  Perjalanan tersebut membawa saya menangkap lagu-lagu Coldplay dan mengonstruksinya sedemikian rupa berdasarkan pengetahuan dan pengalaman sehingga maknanya menjadi lebih personal dan lebih magis ketimbang sebelumnya.

Banyak sekali lagu Coldplay yang kemudian ditautkan dengan pengalaman pribadi saya, mulai dari sejumlah lagu yang saya sukai dan beruntungnya dibawakan pada malam itu seperti “Charlie Brown” dan “In My Place”, hingga lagu-lagu yang paling personal dan tidak dibawakan pada malam itu. Dan seluruh katalog kehidupan itu tiba-tiba saja datang tanpa ada aba-aba.

Dengan berjalan kaki dan diskografi lagu Coldplay yang terus berputar di kepala, saya mengingat dengan cukup jelas untuk tidak memelihara dendam dan mengelolanya dengan baik sebagaimana yang ada dalam “Death & All His Friends”,  lalu “See You Soon” untuk menangkal (atau malah merawat?) rindu dalam hubungan jarak jauh, serta “Everything’s Not Lost” yang bertutur untuk bangkit dari kehilangan dengan cara-cara yang masuk akal.

Dalam perjalanan itu, saya melihat sejumlah sisa penonton konser yang masih tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Mungkin kami masing-masing bahagia. Mungkin kami masing-masing sedih. Mungkin ada yang menyala dalam diri kami masing-masing. Mungkin ada yang meredup dalam diri kami masing-masing. Mungkin kami masing-masing sumringah dan terkoyak. Mungkin kami masing-masing sedang menyaksikan lanskap kenangan yang muncul dari lagu-lagu Coldplay yang paling berpengaruh dalam hidup kami. Mungkin kami sama-sama berjalan kaki melintasi kenangan.

We are stuck in reverse.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s