Quarter-Life Crisis, Chris Cornell, dan Hal-Hal yang Belum Selesai

Penulis musik dengan independensi tinggi namun tidak pretensius, Taufiq Rahman, pernah berujar jika terkadang musik yang tepat-seperti halnya teman-akan mendatangi Anda dan bukan sebaliknya. Paling tidak bagi saya, hal ini terbukti kebenarannya ketika saya menemukan lagu-lagu Chris Cornell yang hampir bertepatan saat saya menginjak pertengahan usia kepala dua. Sejumlah karya Chris Cornell (baik ketika masih berada di Soundgarden maupun saat solo karir) memilki nuansa nihilis, sarat akan sisipan pertanyaan eksistensialisme, namun tidak serta-merta menjadikan karyanya sebagai karya destruktif. Barangkali terjalin hubungan parasocial friendship di antara Chris Cornell dengan pendengarnya yang masih diselimuti kekalutan menuju usia pertengahan duapuluhan. Chris Cornell bisa berbicara tentang apa saja mengenai quarter-life crisis.

Dalam “Fell on Black Days” bersama Soundgarden, Chris Cornell memandang dunia dengan kemuraman, ketidakyakinan, dan demotivasi. Sejak empat baris pertama saja, ketakutan datang seperti hantu yang tiba-tiba menampakkan diri: “Whatsoever I feared has come to life, Whatsoever I’ve fought off, became my life”. Dalam wawancara dengan Entertainment Weekly, Chris Cornell mendeskripsikan lagu ini seperti perasaan ketika terbangun dan menyadari ketika kamu tidak gembira dalam hidupmu. Tidak ada suatu hal besar terjadi dan tidak ada yang mendesak. Kamu hanya tidak tahu apa yang terjadi. Di satu waktu kamu bergembira, di waktu lainnya tidak, dan kamu sedang mencoba untuk mencari tahu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan ditujukan secara langsung kepada orang-orang yang sedang dalam pencarian makna hidup. Setelah meneriakkan kegamangan secara berulang-ulang dengan tenor tinggi pada “How would I know, that this could be my fate?”, Chris Cornell mengharapkan perubahan dalam dirinya dengan suara berat dan parau, ”I sure don’t mind a change”.

Di sisi lain, musisi yang juga menjadi pentolan Audioslave ini sesekali membersitkan seberkas cahaya dalam liriknya. Simak “Preaching the End of The World” dari album solonya yang dibuka dengan optimisme yang membuncah. “Hello, I know there’s someone out there. Who can understand, and who’s feeling the same way as me. I’m 24, and I’ve got everything to live for”. Tentu saja lirik-lirik selanjutnya kembali diwarnai dengan palet-palet gelap, namun dirinya tidak begitu saja menyerah dengan keadaan, dan berupaya mencari teman yang tulus untuk menghadapi akhir dunia: “So, call me now, it’s alright. It’s just the end of the world. You’ll need a friend in the world, ’cause you can’t hide. So call and I’ll get right back, if your intentions are pure. I’m seeking a friend for the end of the world…..’Cause all has been gone and all has been done, And there’s nothing left for us to say, But we could be together as they blow it all away, and we could share in every moment as it breaks”. Kita tahu lagu ini menjadi ironi, karena pada akhirnya Chris Cornell memilih untuk meninggalkan dunia, bahkan sebelum dunia mencapai akhirnya. Mungkin pada akhirnya Chris Cornell tidak menemukan teman tulus yang dia cari. Mungkin saja justru teman terdekatnya adalah depresi dan anxiety yang hadir seperti bayangan yang muncul kapanpun tanpa peringatan, serta mengasingkan dirinya dari dunia.

Bagaimanapun, karya Chris Cornell telah menjadi retrospeksi tentang apa artinya berada di fase quarter-life crisis di usia seperempat abad. Berbagai ketidaknyamanan muncul pada fase ini, mulai bangku kuliah yang tidak lagi nyaman diduduki, ketidaknyamanan menerima uang dari orangtua, mulai membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, mempertanyakan pilihan karir, merasa terjebak dengan rutinitas, berpikir untuk menerapkan personal value dengan memiliki rumah dan keluarga sendiri, pertaruhan antara realitas dan idealisme, hingga ketakutan jika impian tidak akan tercapai.

Sebetulnya saya penganut mazhab bahwa manusia tidak akan pernah selesai dengan dirinya sendiri, sehingga quarter-life crisis adalah fase yang sejatinya tidak perlu dicemaskan. Untuk itu, saya hanya berharap jika kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri. Berdamai dari berbagai penyesalan dan kenestapaan masa lalu, berdamai dari kerja keras, pilihan, dan perjudian di masa kini, serta berdamai dengan ekspektasi dan hasil yang diharapkan tidak mengkhianati proses di masa depan. Semoga kita semua bisa berdamai dari hal-hal yang belum selesai.


The Nov. 4 Rally is the Embodiment of Human as A Destructive Creature

How is such barbarity possible in the late Twentieth Century?”

That question came at the beginning of Jean Baudrillard’s writing, “The Transparency of Evil: Essays on Extreme Phenomena”, in the chapter The Mirror of Terrorism. How (and why) the primitive behavior still appears in the era of advanced technology, when human behavior –supposed to be- more civilized? Why violence can be so easy to slip intertwined in every side of our life?

The Nov. 4 2016 rally has revealed if we haven’t stepped our toes that far yet from nativism and tribalism. Initiated by FPI leader Habieb Rizieq Shihab, thousands of protesters flooded Jakarta demanding Ahok to be charged for his alleged blasphemy case. The protesters came not only from Jakarta but also from Yogyakarta, Solo, even outside Java such as Sumatra, Kalimantan and Sulawesi, of all ages. The uproar was triggered after a video of Ahok citing Al-Qur’an and made controversial comment in Kepulauan Seribu. This controversial speech was uploaded by a man named Buni Yani onto his Facebook page and went viral in other social media. As a result of it, everybody hits the ceiling in a sudden. Later, Buni Yani confessed if he had mistakes in transcribing the speech.

However, I have to to declare if I am not a big fan of his statement back in that day. I perceive if Ahok has not had the intention to insult other beliefs, but it seems no need to carry to those ethically wrong words. It’s just another example, if big-mouthed Ahok can lead problematic. Even in my opinion, every citizen is entitled to report anyone in the Indonesian legal system, so I respect the legal process that is currently underway. Regardless, the complainant(s) should be heartened if Ahok found not guilty considering twisted words from Buni Yani.

But let’s not discuss it. Things need to be observed more carefully is why there must be looting and racist sentiments when the demonstration takes place?

At the beginning, the demonstration runs quite orderly and peaceful, even deserve thumbs up when protesters took the initiative to pick up the garbage and to not to step on the city park. The tensions suddenly rose in a wrap, after the demonstration license was expired at 6 pm. Several protesters set off firecrackers, threw rocks, and burned two police trucks until police decided to fired tear gas to the protesters near the State Palace. Then, the riots moved over into Penjaringan, North Jakarta. At least, three minimarket were looted (by them, the nasty opportunists) and they shouted “Bunuh Cina!” and “Ganyang Cina!” and other hate speeches. There is also chaos in front of Ahok’s residence in Pantai Mutiara, also in North Jakarta, when mass gathered and make some similar noises.

Noticeably, this is irrational when the-so-called representatives of the Muslims have business with someone (Ahok), then the subject is a whole community of Chinese ethnicity. This argument is clearly, logically invalid. Even though Ahok is a Chinese-Indonesian, the demonstrators ought not to cornering all Chinese Indonesian community. We can’t make a generalization about what is true for some parts, can be applied to all, or vice versa. It is called pars pro toto, fallacy of composition and division. We can’t name of a portion of a man (Ahok) can represent its entirety (Chinese ethnic).

It’s really depressing when there are still many people who blame some minority ethnicity in Indonesia’s history that has experienced robberies, mass murder and rape in many years. Have you ever imagined your house knocked and when you open the door, you will be bayoneted in front of your family? You’ll never be paranoid as bad as Chinese ethnic people in Indonesia. They, the Chinese-Indonesian, through that bloody-dark era in many years, from Chinezenmoord 1740, to G30S/PKI ’65, to May ’98.

This racial hatred fueled and hijacked by the political identity separation, and hatred is ingrained, widespread, without any chance of reconciliation or explanation. This is exacerbated by our wick of anger that extremely short and laziness of Indonesian people to gather information and explore context. For the English philosopher Thomas Hobbes, human was dominated by irrational and destructive impulses, humans are a bunch of vicious, cruel, and short-temper creatures. This is why human is also known as homo homini lupus: human is a wolf to another human that leads to collective wars of all against all, when everyone is a foe and competitor of everyone else (bellum omnium contra omnes). As a zoologist, Konrad Lorenz emphasizes human violence in his book, “On Aggression”.  Aggressive drive springs spontaneously from the inner human being even in the absence of stimulus. Human is a destructive creature by nature, not only by nurture. Back to Jean Baudrillard’s question about human barbaric behavior in the opening sentence, the answer to that question is if it was a false question. Barbaric behavior knows no time and will always exist, particularly for a country like Indonesia with inequality education and poverty that resulting social jealousy.

A source of violence can appear out of the blue, from the media agenda-setting that constructing hostility, to social inequalities, compounded as if this country seemed to facilitate and promote violence. I do not have a steady conclusion to offer. But let’s think for a moment (perhaps cliché) and open our mind whether the violence was the right thing to do? Is your dislike of a person based on inaccurate information, can make a particular ethnic shivering again in their trauma? Do not forget if they are human beings. They were experienced the terrors and injustice of it in the past, do not let this happen again to them.

Never. Let. It. Happen. Again.

Or maybe it is true if we’ve reached the point where we would be the most destructive creatures on earth. Perhaps this assumption is wrong. Please prove me wrong. And I hope I’m wrong.

Tentang Rumah

Penyunting aksara sekaligus penulis asal Amerika, Verlyn Klinkenborg, membuka paragraf pada esainya yang berjudul “The Definition of Home” dalam majalah Smithsonian dengan sebuah pertanyaan: “when did ‘home’ become embedded in human consciousness?” Sejak kapan (kata) “rumah” tertanam dalam kesadaran manusia? Selanjutnya, Klinkenborg kembali bertanya,”is our sense of home instinctive? Are we denning animals or nest builders, or are we, at root, nomadic?

Memang betul, mendefinisikan rumah adalah perihal yang tidak mudah. Entah sejak kapan rumah lebih merujuk kepada kata benda, -dalam konstruksi sosial yang telah terbangun- adalah tentang bangunan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  rumah /ru.mah/ adalah [1] bangunan tempat tinggal; [2] bangunan pada umumnya. Definisi yang begitu sederhana, bahkan bisa dikatakan terlalu sempit pemaknaannya.

Jika tim penyusun KBBI ingin sedikit saja memperlebar pandangan tentang rumah, maka kita akan mendapati pemaknaan yang lebih luas ketimbang sekadar ruang (bangunan) saja. Rumah juga dapat diartikan sebagai suatu wilayah atau letak geografis, seperti kampung halaman, desa, kota, ataupun negara. Selain ruang dan wilayah, rumah juga memiliki kandungan makna kata benda lainnya, yaitu tentang waktu dan (ke) pulang (an).

Jika menarik makna rumah secara lebih luas lagi, rumah bisa diartikan sebagai sebuah kata sifat, misalnya cinta, hangat, nyaman, aman, dll. Bahkan lebih jauh lagi, menurut Zen Rachmat Sugito, rumah juga mengandung makna yang dapat diklasifikasikan sebagai kata kerja, atau paling tidak, perlu dikerjakan, seperti hasrat, mimpi, cita-cita, dsb dll dst.

Ada banyak lagi kemungkinan definisi tentang rumah, namun satu hal yang pasti. Rumah tidak sekadar bangunan.

Kembali ke pertanyaan dalam esai Klinkenborg pada paragraf awal, tentang bagaimana rumah masuk ke dalam kesadaran manusia. Penulis buku The Last Fine Time ini menuturkan jika dalam awal sejarah manusia, mungkin rumah tidak lebih dari api kecil yang samar-samar menyala, menyinari sebuah goa dengan gundukan rayap. Namun, bagaimana pun sebuah rumah, dan bagaimana “rumah” masuk ke dalam kesadaran manusia, itu semua tergantung pengetahuan serta pengalaman personal, bagaimana tiap-tiap kepala manusia berproses dan kemudian mengkonstruksi ulang definisi rumah, sesuai dengan pemahamannya masing-masing.

Kita dapat mengambil contoh, ketika seorang anak kecil merasakan pindah rumah untuk pertama kali. Di rumah barunya, anak tersebut mengalami geger kultur, di mana ia tidak atau belum menemukan teman sebaya untuk bermain bola di lapangan. Di rumah barunya, anak itu tak lagi dapat berkaraoke keras-keras menyanyikan lagu anak-anak disebabkan adanya peraturan yang melarang penggunaan pengeras suara yang berpotensi mengganggu kenyamanan lingkungan. Di rumah barunya, anak itu mengalami kesepian karena orang tuanya seringkali pergi pagi pulang malam mengingat letak rumahnya yang jauh dari kota. Di rumah barunya, anak itu tak lagi merasa nyaman, karena rumah barunya tersebut seringkali bocor di kala hujan. Di rumah barunya, anak itu tak lagi merasa aman, karena ketika orang tuanya bekerja, terkadang anak itu dititipkan oleh paman yang suka mabuk tanpa diketahui oleh orang tua dari anak tersebut. Dari situ, si anak tersebut tidak lagi merasa rumah tersebut sebagai “rumah”. Rumah barunya telah turun tingkat menjadi hanya bangunan tempat tinggal saja, tanpa kehangatan dan kerinduan akan pulang ke rumah. Persis seperti definisi rumah dalam KBBI. Tanpa emosi, tanpa kedekatan.

Rumah sebagai awal

Kedekatan dan emosi di dalam rumah dilahirkan melalui adanya repetisi interaksi dan afeksi antar penghuni rumah. Dan dalam kehidupan manusia, rumah adalah sebuah awal di mana intensitas repetisi dan afeksi didapatkan oleh manusia untuk kali pertama.

Home interprets heaven. Home is heaven for beginners.” (Charles Henry Parkhurst)

Rumah adalah sebuah awal bagi kehidupan manusia. Rumah merupakan batu peletakan pertama bagaimana kepribadian seorang manusia akan terbentuk. Kehadiran “rumah” (bangunan berikut penghuninya) merupakan awal jejak kaki manusia untuk berinteraksi sebelum kemudian dilepas untuk menjejakkan langkah berikutnya, keluar dari rumah.

Rumah dan segala perubahannya

Saya belum menemukan padanan kata homesick dalam bahasa Indonesia, jadi izinkan untuk mencampur aduk kata tersebut dalam kalimat berbahasa Indonesia. Bisakah manusia merasa homesick padahal dia sedang berada di rumah?

Apakah manusia dapat menemukan rumah baru bagi dirinya sendiri?

Apakah rumah yang telah terdegradasi maknanya menjadi sebuah ruang tanpa emosi, bisa kembali naik tingkat menjadi rumah seutuhnya?

Kembali dengan cerita anak kecil yang telah pindah rumah pada paragraf-paragraf sebelumnya. Mari kita lanjutkan ceritanya. Seiring berjalannya waktu, anak itu akhirnya mendapatkan teman-teman, yang meskipun usianya jauh di atas dirinya, tapi dapat menerima anak tersebut dalam pergaulan mereka. Di rumah barunya juga, anak itu dapat mengajak teman-teman tersebut untuk bermain video game. Meskipun orang tuanya pulang malam, di rumah barunya ini lah anak itu dapat berkumpul bersama sepupu-sepupunya yang ternyata memiliki rumah tak jauh dari rumah baru anak itu.  Di rumah barunya ini juga lah, anak itu merasakan pengalaman pertama mengikuti lomba tujuh belasan. Sebuah pengalaman menyenangkan yang belum ia temui pada rumah lamanya. Dan setelah ia mengalami berbagai hal tersebut, anak itu terbiasa dengan rumah barunya dan merasa nyaman di sana.

Pada saat-saat seperti itulah rumah kembali naik kelas, dari yang sebelumnya sekadar bangunan semata, menjadi sebuah kenyamanan. Dan hal ini menjawab pertanyaan apakah kasta sebuah rumah dapat berubah atau tidak tingkatannya, karena definisi rumah sangat fleksibel.

Rumah juga tidak selalu harus sebuah bangunan yang ada di KTP-mu. Bagi seorang suami yang sedang mengalami kisruh rumah tangga, rumah baginya adalah warung rokok yang terjaga sejak malam hingga pagi dengan papan catur, bir, kopi, dan kepulan tukang sate. Bagi seorang yang putus cinta, rumah adalah studio musik dengan fender stratocaster, ampli vox, dan ruang kedap suara. Bagi orang yang ditinggal mati kekasihnya, rumah adalah desir ombak pada pesisir pantai. Dan bagi orang yang sudah putus asa dan tak lagi punya semangat hidup, rumah (dan dunia) adalah sebuah hal yang tak lagi nyata/fana.

Bahkan dengan pandangan yang lebih luas lagi, rumah dapat diartikan tentang seseorang/beberapa orang. Rumah bisa berarti tentang percakapan anak rantau dengan ibunya sambil menyantap sayur asem buatan ibunda yang kelewat dingin karena menunggu kepulangan sang anak. Rumah bisa jadi adalah teman karib, sosok di mana kamu bebas saling mencaci-maki, toyor sana toyor sini, namun di saat yang dibutukan dapat saling menolong satu sama lain. Rumah juga mungkin saja ada di dalam diri seseorang di kilometer jauh yang ingin membuatmu cepat kembali. Rumah pun dapat diurai menjadi semakin fleksibel, dan mungkin kompleks

Begitulah pada akhirnya, tiap kepala manusia akan merekonstruksikan sendiri apa arti rumah bagi mereka berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya masing-masing. Tapi pada akhirnya ada satu elemen yang tidak akan pernah hilang dalam sebuah rumah; bahwa rumah adalah sesuatu yang tidak akan membuatmu merasa asing. Rumah adalah perihal yang kamu jadikan tempat tinggal dan bukan sekadar tinggal tempat. Rumah adalah perihal kembali dan kepulangan, penawar penolakan-penolakan di dunia.  Menutup tulisan ini dengan mengubah sedikit frase milik Adimas Immanuel, rumah adalah kepulangan yang tak buatmu canggung, obat di kala limbung, serta tempat rebah saat beban hidup terasa menggunung.



Benedictus Gemilang Adinda

Minggu, 17 Januari 2016

Sebuah Ode tentang Hujan: Tragedi di Penghujung Tahun 2014

Tulisan ini saya awali dengan mengutip kata-kata legendaris dari komedian legendaris pula.

I always like walking in the rain, so no one can see me crying.”

(Charlie Caplin)

Hujan tak henti-hentinya  mengguyur deras, membasahi setiap jengkal Jakarta di penghujung tahun 2014. Terus mericik sejak pagi hingga tulisan ini dibuat, seolah-olah semesta ingin menyampaikan suatu pertanda untuk kita di penghujung tahun 2014. Bersamaan dengan guyuran hujan deras, 2014 ditutup dengan berbagai tragedi.

Musibah tiba-tiba datang bertubi-tubi seakan berlomba untuk menutup tahun. Seperti datangnya hujan yang berlomba jatuh ke tanah.

Mulai dari longsor di Banjarnegara pada tanggal 12 Desember 2014, kebakaran di Pasar Klewer, Solo, pada 27 Desember 2014, hingga musibah pesawat hilang AirAsia QZ8501 tujuan Surabaya-Singapura pada 28 Desember 2014. Untuk peristwa terakhir, telah disimpulkan jika pesawat AirAsia QZ8501 telah jatuh di pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.


Kita tidak akan pernah tahu di mana rintik hujan akan jatuh. Kita dapat mengetahui di mana akan turun hujan, tapi tidak akan pernah mengetahui persisnya rintik hujan akan jatuh. Proses terciptanya hujan diawali dengan udara yang terangkat, lalu mengkristal dalam dingin, dan kemudian melayang jatuh menjadi air.

Hujan mengetuk dan membasahi apapun yang disentuhnya, mulai dari genting, dedaunan, aspal, lantai, gemericik air di selokan, tanah, mobil yang sedang lalu lalang, bunga melati yang ditanam ibu di pekarangan rumah, jendela, tangan, kepala, hingga pipi dan pelupuk mata banyak korban dan keluarga korban yang telah lebih dulu basah karena isak tangis akibat berbagai musibah yang datang di penghujung tahun 2014.

Dalam sebuah hujan, terdapat ribuan titik air yang jatuh. Bagi keluarga korban musibah-musibah tersebut, mungkin sebanyak itulah rasa kecemasan yang  jatuh melanda.

Pun dalam sebuah hujan, terdapat berjuta-juta kubik air yang tumpah. Bagi keluarga korban musibah-musibah tersebut, mungkin sebanyak itu pulalah airmata yang tumpah dan harus diusap oleh tangan.

Hujan di penghujung tahun ini sangat pekat, gelap, dan bernuansa melankolia.


Bagi penyair Sapardi Djoko Damono yang lekat dengan hujan, hujan adalah isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan dan menjadikannya tiada. Pun dalam puisinya yang bertajuk Hujan dalam Komposisi, 1, ia mempertanyakan makna sebuah hujan.

“Apakah yang kautangkap dari swara hujan, dari daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela? Apakah yang kautangkap dari bau tanah, dari ricik air yang turun di selokan?”

Hujan Dalam Komposisi, 1 (Sapardi Djoko Damono, 1969)

Bau tanah.

Bau tanah dalam puisi tersebut merujuk pada petrichor, aroma yang hadir acapkali hujan membasahi tanah.

Bau tanah sehabis hujan selalu menimbulkan aroma yang khas. Aroma yang khas dan mudah dikenali.

Semudah seorang perempuan hamil 6 bulan, ketika mengenali parfum suaminya, yang bertugas sebagai pramugara AirAsia QZ8501.

Semudah ibu mengenali bau bedak bagi bayinya yang tertimbun tanah, pada longsor di Banjarnegara.

Semudah para pedagang mengenali bau tekstil tempat mereka mencari nafkah yang kini habis terbakar di Pasar Klewer, Solo.

Tapi tentu saja tidak semudah menghapus kesedihan bagi keluarga serta kerabat yang ditinggalkan. Mengenali bau petrichor juga tidak semudah menghapus kecemasan. Mengutip puisi Mario F. Lawi dalam puisinya yang berjudul Lost! barangkali cocok menggambarkan kekhawatiran para kerabat korban bencana.

Berjagalah, Ibu, seperti nyala dian

Seperti tuan pesta menantikan anggur terbaik

Dikeluarkan dari tempat penyimpanan

 Lost! (Mario F. Lawi)

Lost. Hilang. Kehilangan. Dalam sebuah musibah, yang hilang tidak hanya harta dan nyawa, namun juga waktu dan ruang. Kehilangan akan selalu meninggalkan luka nganga yang teramat dalam. Luka yang akan selalu basah dan tak pernah kering.

Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikan hujan deras ini, pun tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menggagalkan longsor di Banjarnegara, kebakaran di Pasar Klewer, dan Pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikan musibah.

Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menunjukkan empati, mengulurkan uluran tangan, dan mengirimkan doa. Semoga setiap doa, penghiburan, serta pengharapan yang telah dipanjatkan untuk korban bencana dapat menjadi atap.

Atap untuk berteduh.

Hingga hujan ini reda.

Benedictus Gemilang Adinda, 31 Desember 2014