Sebuah Ode tentang Hujan: Tragedi di Penghujung Tahun 2014

Tulisan ini saya awali dengan mengutip kata-kata legendaris dari komedian legendaris pula.

I always like walking in the rain, so no one can see me crying.”

(Charlie Caplin)


Hujan tak henti-hentinya  mengguyur deras, membasahi setiap jengkal Jakarta di penghujung tahun 2014. Terus mericik sejak pagi hingga tulisan ini dibuat, seolah-olah semesta ingin menyampaikan suatu pertanda untuk kita di penghujung tahun 2014. Bersamaan dengan guyuran hujan deras, 2014 ditutup dengan berbagai tragedi.

Musibah tiba-tiba datang bertubi-tubi seakan berlomba untuk menutup tahun. Seperti datangnya hujan yang berlomba jatuh ke tanah.

Mulai dari longsor di Banjarnegara pada tanggal 12 Desember 2014, kebakaran di Pasar Klewer, Solo, pada 27 Desember 2014, hingga musibah pesawat hilang AirAsia QZ8501 tujuan Surabaya-Singapura pada 28 Desember 2014. Untuk peristwa terakhir, telah disimpulkan jika pesawat AirAsia QZ8501 telah jatuh di pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Hujan

Kita tidak akan pernah tahu di mana rintik hujan akan jatuh. Kita dapat mengetahui di mana akan turun hujan, tapi tidak akan pernah mengetahui persisnya rintik hujan akan jatuh. Proses terciptanya hujan diawali dengan udara yang terangkat, lalu mengkristal dalam dingin, dan kemudian melayang jatuh menjadi air.

Hujan mengetuk dan membasahi apapun yang disentuhnya, mulai dari genting, dedaunan, aspal, lantai, gemericik air di selokan, tanah, mobil yang sedang lalu lalang, bunga melati yang ditanam ibu di pekarangan rumah, jendela, tangan, kepala, hingga pipi dan pelupuk mata banyak korban dan keluarga korban yang telah lebih dulu basah karena isak tangis akibat berbagai musibah yang datang di penghujung tahun 2014.

Dalam sebuah hujan, terdapat ribuan titik air yang jatuh. Bagi keluarga korban musibah-musibah tersebut, mungkin sebanyak itulah rasa kecemasan yang  jatuh melanda.

Pun dalam sebuah hujan, terdapat berjuta-juta kubik air yang tumpah. Bagi keluarga korban musibah-musibah tersebut, mungkin sebanyak itu pulalah airmata yang tumpah dan harus diusap oleh tangan.

Hujan di penghujung tahun ini sangat pekat, gelap, dan bernuansa melankolia.

Petrichor

Bagi penyair Sapardi Djoko Damono yang lekat dengan hujan, hujan adalah isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan dan menjadikannya tiada. Pun dalam puisinya yang bertajuk Hujan dalam Komposisi, 1, ia mempertanyakan makna sebuah hujan.

“Apakah yang kautangkap dari swara hujan, dari daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela? Apakah yang kautangkap dari bau tanah, dari ricik air yang turun di selokan?”

Hujan Dalam Komposisi, 1 (Sapardi Djoko Damono, 1969)

Bau tanah.

Bau tanah dalam puisi tersebut merujuk pada petrichor, aroma yang hadir acapkali hujan membasahi tanah.

Bau tanah sehabis hujan selalu menimbulkan aroma yang khas. Aroma yang khas dan mudah dikenali.

Semudah seorang perempuan hamil 6 bulan, ketika mengenali parfum suaminya, yang bertugas sebagai pramugara AirAsia QZ8501.

Semudah ibu mengenali bau bedak bagi bayinya yang tertimbun tanah, pada longsor di Banjarnegara.

Semudah para pedagang mengenali bau tekstil tempat mereka mencari nafkah yang kini habis terbakar di Pasar Klewer, Solo.

Tapi tentu saja tidak semudah menghapus kesedihan bagi keluarga serta kerabat yang ditinggalkan. Mengenali bau petrichor juga tidak semudah menghapus kecemasan. Mengutip puisi Mario F. Lawi dalam puisinya yang berjudul Lost! barangkali cocok menggambarkan kekhawatiran para kerabat korban bencana.

Berjagalah, Ibu, seperti nyala dian

Seperti tuan pesta menantikan anggur terbaik

Dikeluarkan dari tempat penyimpanan

 Lost! (Mario F. Lawi)

Lost. Hilang. Kehilangan. Dalam sebuah musibah, yang hilang tidak hanya harta dan nyawa, namun juga waktu dan ruang. Kehilangan akan selalu meninggalkan luka nganga yang teramat dalam. Luka yang akan selalu basah dan tak pernah kering.

Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikan hujan deras ini, pun tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menggagalkan longsor di Banjarnegara, kebakaran di Pasar Klewer, dan Pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikan musibah.

Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menunjukkan empati, mengulurkan uluran tangan, dan mengirimkan doa. Semoga setiap doa, penghiburan, serta pengharapan yang telah dipanjatkan untuk korban bencana dapat menjadi atap.

Atap untuk berteduh.

Hingga hujan ini reda.

Benedictus Gemilang Adinda, 31 Desember 2014

Advertisements

Getah Kepengurusan Sepak Bola Indonesia yang Tak Terurus

Manfaatkan hasil clearance Zulkifli Syukur yang tidak sempurna, pemain pengganti Vietnam, Chong Vinh Lee, mencetak gol yang mengubah kedudukan menjadi 2-1.  Tidak tinggal diam, pelatih tim nasional Indonesa berkebangsaan Australia, Alfred Riedl, memasukkan Samsul Arif menggantikan pemain senior Boaz Salossa guna menambah daya gedor.  Enam menit jelang bubaran, pergantian ini berbuah manis dengan gol yang dicetak oleh Samsul Arif sekaligus sebagai penyama kedudukan menjadi 2-2. Angka ini bertahan hingga peluit akhir dibunyikan. Meskipun ada beberapa catatan penting di laga ini, dari segi hasil, imbang melawan tim tuan rumah yang didukung ribuan penonton merupakan hasil yang tidak buruk-buruk amat.

Optimisme pun sedikit-banyak tumbuh pada masyarakat.

Namun harapan tersebut seperti sirna begitu saja setelah mengetahui apa yang terjadi di laga kedua putaran grup, AFF 2014. Filipina mengandaskan Indonesia dengan skor 4-0, negara yang menganaktirikan olahraga sepakbola dapat menghancurkan negara yang menganakemaskan sepakbola (dengan kucuran APBN, sponsor, dukungan penggemar sepak bola Indonesia yang sudah mencapai taraf ‘gila’, dll-), dengan empat gol tanpa balas di stadion My Dinh, Vietnam.

Dengan jumlah poin serta selisih gol yang didapat, kemungkinan untuk lolos pun mengecil menjadi sangat sempit, bahkan lebih sempit dari lubang jarum. Dan pada kenyataanya memang kita tersingkir dari AFF 2014 meskipun kita mengalahkan Laos dengan skor telak 5-1, karena di tempat lain, Vietnam mengandaskan Filipina dengan skor 3-1. Bahkan jika Filipina menang pun, kita belum tentu lolos karena defisit gol antara Indonesia dan Vietnam yang terlampau jauh.

Demikian kilas balik perjalanan getir timnas Indonesia pada AFF 2014. Mungkin bisa dibilang, ini merupakan sekuel dari perjalanan timnas Indonesia  pada AFF 2012 yang bertempat di Malaysia, di mana Indonesia juga tersingkir pada putaran grup.

Saat itu, sejumlah pihak melontarkan kritik terhadap Nil Maizar selaku pelatih timnas Indonesia di AFF 2012 atas kegagalan timnas. Kini, beberapa pihak lainnya mengacungkan jari telunjuknya, menuding Alfred Riedl atas kegagalan timnas. Adilkah penilaian tersebut?

Untuk saya tidak. Berikut penilaian saya. As a reminder, tentu saja tulisan ini sangat terbuka dengan argumentasi, opini, dan sudut pandang lain.


Kala AFF 2012, skuat timnas Indonesia yang berlaga di Kuala Lumpur bukanlah skuat terbaik yang kita miliki. Dualisme kepengurusan menyebabkan pilihan pemain timnas kala itu sangat terbatas. Nil Maizar hanya dapat memilih pemain yang berkompetisi di Indonesian Premier League, sedangkan pemain langganan timnas berlaga di Liga Super Indonesia (ISL). Bambang Pamungkas, Vendry Mofu, Taufiq, dan Andik hanyalah sedikit nama-nama bonafid yang terdapat dalam daftar pemain timnas. Naturalisasi pemain pun saat itu tidak banyak membantu, mulai dari Raphael Maitimo, Tonnie Cussell, hingga striker bertubuh gempal seperti Jhonny van Beukering. Dengan keterbatasan tersebut, pantaskah kita menyalahkan kegagalan Nil Maizar atas AFF 2012?

Begitu pula pada AFF 2014 yang digelar di Vietnam. Riedl baru dikonfirmasi menjadi pelatih Indonesia ketika gelaran AFF 2014 hanya kurang dari dua bulan saja, itu artinya Riedl harus menyeleksi pemain, mood-making, uji coba, dan membangun koordinasi skuat mulai dari formasi, taktik, strategi, hingga starting eleven, hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan saja. Ditambah lagi kompetisi ISL sendiri masih berlangsung hingga November dan uji coba hanya dilakukan satu kali melawan Suriah. Itupun sekaligus proses seleksi. Mepetnya persiapan menyebabkan Riedl kesulitan meramu komposisi terbaik tim merah-putih. Meminjam kalimat akhir pada paragraf sebelumnya, dengan keterbatasan tersebut, pantaskah kita menyalahkan Alfred Riedl atas AFF 2014?

Dengan segala keterbatasan tersebut, pelatih sekelas Jose Mourinho atau Pep Guardiola pun tidak akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Jangan salah, bukan berarti mereka (Nil Maizar dan Alfred Riedl) menjalankan tugas mereka sebagai pelatih tanpa cela. Kita tahu pada AFF 2012, seorang pemain bertubuh gempal – jika kata obesitas terlalu kasar – seperti Jhonny van Beukering dijadikan starting line-up pada semua pertandingan kala itu oleh Nil Maizar. Padahal dengan tubuh obesitas “berisi” seperti itu, dia sama sekali tidak dapat mengejar umpan terobosan, selalu kalah lari dari bek lawan, dan tidak dapat melompat lebih tinggi dari pemain lain karena tertahan timbunan lemak di perutnya. Pun di AFF 2014, ketika Alfred Riedl kembali tukangi timnas Indonesia setelah di AFF 2010 menjadikan Indonesia sebagai runner-up. Tidak ada yang salah dengan menggunakan pemain gaek seperti Zulkifli dan Firman Utina, pun tidak masalah pula menggunakan pemain naturalisasi seperti Christian Gonzales dan Sergio Van Dijk. Tapi yang patut dipertanyakan, mengapa Riedl tidak mengikutsertakan pemain muda yang secara fisik lebih siap untuk AFF 2014 seperti Andik Vermansyah, atau Maldini Pali misalnya.

Organisasi Sepak Bola Indonesia sebagai Induk Permasalahan

Yang seharusnya (dan sejak dulu) paling bertanggung jawab atas kemerosotan performa timnas adalah PSSI beserta organisasi kepengurusan lainnya seperti PT Liga Indonesia. Hasil ini merupakan pukulan yang sangat keras bagi timnas Indonesia, lebih keras dari knock-out punch yang dilayangkan Muhammad Ali dan menghempaskan tubuh George  Foreman ke kanvas ring, dan kita telah menerima pukulan ini untuk kesekian kali. Penjadwalan kompetisi yang buruk, sirkus politik dan kepentingan yang tak pernah usai, pemilihan pelatih yang mepet dengan waktu persiapan, korupsi menjamur di berbagai tingkat kepengurusan, fasilitas lapangan yang tidak memadai, tunggakan gaji pemain yang disebabkan ketidakjelasan regulasi anggaran, dan sederet bentuk keteledoran lainnya.  Inkompeten kepengurusan pun diperparah dengan kebebalan menggunakan sistem yang sama.

Ketidakbecusan dalam mengurus organisasi sepak bola Indonesia seperti telah menjadi repetisi bagi PSSI, baik dari zaman Azwar Anas, Agum Gumelar, Nurdin Halid, hingga Djohar Arifin. Seperti yang sudah-sudah, PSSI hanya menjanjikan evaluasi, yang biasanya hanya akan menguap sebagai janji tanpa eksekusi berarti.  Kepengurusan seperti ini tidak akan membuat sepak bola nasional melangkah maju, mungkin mandek, atau malah mundur. Menurut cermat saya, hal yang paling penting dalam persepakbolaan Indonesia saat ini bukanlah mendapatkan pemain di antara dua ratus jiwa penduduk Indonesia. Namun, yang paling krusial adalah menemukan sejumlah pengurus di antara dua ratus jiwa penduduk, yang dapat dipercaya untuk mengelola sepak bola Indonesia.

Revolusioner kiri Tan Malaka, pada naar de Republiek Indonesia, menyatakan jika kita tak bisa mendapatkan kemenangan yang lengkap, sedapat mungkin kita terhindar dari kekalahan. Jangankan untuk mendapatkan kemenangan yang lengkap, yang terjadi adalah kita selalu tidak dapat menghindar dari kekalahan serta kenyataan yang pahit dan getir. Rasa pahit dan getir ini pun akan selalu kita kecap, getah dari kepengurusan yang tidak terurus.